DARI MASALAH MENJADI BERKAT
Perjalanan Seorang Ibu Rumah Tangga Membangun Navaro House
Oleh
Monika Leoni
Saya Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Pengusaha

Pagi itu aroma teh baru saja memenuhi ruang fermentasi kecil di belakang rumah orang tua saya di Yogyakarta. Di atas rak-rak besi berjajar puluhan toples kaca berisi teh yang sedang berfermentasi. Permukaannya tertutup lapisan putih krem yang perlahan semakin menebal. Di dalamnya, jutaan mikroorganisme bekerja tanpa suara, mengubah teh manis menjadi kombucha.
Saya berdiri beberapa saat di depan rak itu.
Entah mengapa, pagi itu saya tidak langsung mulai bekerja. Saya hanya memandangi setiap toples yang tersusun rapi. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan.
Kalau seseorang bertanya kepada saya lima tahun yang lalu apakah saya akan memiliki ruang fermentasi seperti ini, saya mungkin akan tertawa.
Bahkan sepuluh tahun yang lalu, saya tidak tahu apa itu kombucha.
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi pembuat minuman fermentasi.
Saya juga tidak pernah membayangkan akan mengajar kelas kombucha kepada ratusan orang dari berbagai daerah di Indonesia.
Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki pelanggan yang datang dari berbagai kota.
Semua itu sama sekali tidak ada di dalam daftar mimpi saya.
Kalau ada yang bertanya apa cita-cita saya saat masih muda, mungkin jawabannya sama seperti kebanyakan perempuan lainnya.
Saya ingin mempunyai keluarga yang bahagia.
Saya ingin menjadi istri yang baik.
Saya ingin menjadi ibu yang dapat membesarkan anak-anak dengan penuh kasih.
Sesederhana itu.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi seorang pengusaha.
Apalagi pengusaha kombucha.
Kalau hari ini orang melihat Navaro House, mereka mungkin melihat sebuah usaha yang sedang bertumbuh.
Mereka melihat botol-botol kombucha yang tersusun rapi.
Melihat berbagai varian rasa.
Melihat media sosial yang aktif.
Melihat pelanggan yang datang membeli.
Melihat saya berbicara di depan kelas online untuk mengajar membuat minuman Teh fermentasi Kombucha.
Mereka mungkin berpikir semuanya memang sudah direncanakan sejak awal.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Navaro House tidak lahir dari sebuah rencana bisnis yang sempurna.
Tidak lahir dari modal besar.
Tidak lahir dari investor.
Tidak lahir dari keluarga pengusaha.
Navaro House lahir dari seorang ibu rumah tangga yang sedang berusaha bertahan hidup degan usahanya sendiri.
Saya sering percaya bahwa hidup berjalan lurus.
Bahwa jika kita bekerja keras, maka semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Namun hidup ternyata mengajarkan hal yang berbeda.
Hidup lebih sering berjalan seperti jalan kecil di pegunungan.
Banyak tikungan.
Naik.
Turun.
Kadang berkabut.
Kadang kita bahkan tidak tahu apa yang ada di balik tikungan berikutnya.
Ketika saya melihat kembali perjalanan hidup saya, saya baru menyadari bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang benar-benar sia-sia.
Usaha laundry yang dulu kami bangun.
Perpindahan dari satu kota ke kota lain.
Menjadi dropshipper.
Menjual berbagai macam barang.
Belajar membuat sabun alami.
Belajar membuat konten.
Pandemi.
Papa yang sakit.
Kombucha yang terlambat dipanen.
SCOBY yang menumpuk.
Ruang fermentasi yang berjamur.
Program inkubasi.
Semuanya terlihat seperti potongan-potongan cerita yang tidak saling berhubungan.
Namun ternyata tidak.
Hari ini saya melihat semuanya seperti kepingan puzzle.
Ketika satu keping selesai dipasang, saya masih belum mengerti gambar besarnya.
Baru setelah bertahun-tahun kemudian saya memahami bahwa setiap pengalaman sedang mempersiapkan saya untuk langkah berikutnya.
Saya teringat sebuah ayat yang sering menguatkan saya.
“ Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;.” Yeremia 29:11-12
Dulu saya membaca ayat itu hanya sebagai penghiburan.
Hari ini saya mengalaminya sendiri.
Banyak hal yang dahulu saya anggap sebagai masalah, ternyata justru menjadi pintu masuk menuju berkat yang jauh lebih besar.
Kalau papa saya tidak sakit, mungkin saya tidak akan sering pulang ke Yogyakarta.
Kalau saya tidak sering pulang ke Yogyakarta, mungkin kombucha saya tidak akan terlambat dipanen.
Kalau kombucha itu tidak terlambat dipanen, mungkin saya tidak akan memiliki SCOBY sebanyak itu.
Kalau saya tidak memiliki SCOBY sebanyak itu, mungkin saya tidak pernah terpikir untuk menjualnya.
Kalau saya tidak menjual SCOBY, mungkin Navaro House tidak pernah lahir.
Lucu sekali jika dipikirkan.
Sesuatu yang awalnya saya anggap sebagai keterlambatan, ternyata justru menjadi awal dari perjalanan baru.
Begitulah cara Tuhan bekerja.
Sering kali Dia tidak langsung memberikan jawaban.
Dia lebih dahulu mempersiapkan kita.
Membentuk karakter kita.
Mengajarkan kita bertahan.
Mengajarkan kita rendah hati.
Mengajarkan kita untuk terus belajar.
Barulah ketika waktunya tepat, Dia membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
Karena itulah saya menulis cerita ini.
Bukan karena saya merasa sudah berhasil.
Jauh sekali.
Perjalanan saya masih sangat panjang.
Navaro House baru dimulai dan masih akan terus bertumbuh.
Saya masih terus belajar.
Saya masih sering melakukan kesalahan.
Masih sering merasa takut.
Masih sering bertanya apakah keputusan yang saya ambil sudah benar.
Saya menulis cerita ini karena saya percaya bahwa setiap orang yang sedang berjuang membutuhkan satu hal.
Harapan.
Saya ingin ketika ada seorang ibu rumah tangga membaca cerita ini, ia berkata,
“Kalau Monika bisa bangkit dari titik itu, mungkin aku juga bisa.”
Saya ingin ketika ada pelaku UMKM yang sedang hampir menyerah, ia menyadari bahwa hampir semua pengusaha pernah mengalami titik yang sama.
Saya juga ingin anak-anak saya suatu hari nanti membaca cerita ini.
Bukan supaya mereka melihat keberhasilan ibunya.
Tetapi supaya mereka tahu bahwa semua yang saya lakukan berawal dari satu alasan sederhana.
Saya ingin menjadi ibu yang tidak berhenti berjuang.
Saya ingin mereka tahu bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar ketika seseorang mau terus belajar, mau terus bekerja, dan mau tetap percaya kepada Tuhan.
Kalau hari ini Anda membaca cerita ini, mungkin Anda mengenal saya sebagai pendiri Navaro House.
Namun izinkan saya membawa Anda kembali ke masa ketika semua ini bahkan belum mempunyai nama.
Ke masa ketika saya hanyalah seorang perempuan biasa yang sedang berusaha menjaga keluarganya tetap bertahan.
Karena sesungguhnya…
kisah Navaro House tidak dimulai dari kombucha.
Kisah ini dimulai dari seorang ibu yang belajar untuk tidak menyerah.

Ketika Hidup Mengajarkan Saya Memulai Lagi
“Tuhan jarang membawa seseorang menuju tujuan besarnya dengan jalan yang lurus. Sering kali Dia membawa kita berputar-putar, supaya kita belajar menjadi pribadi yang siap ketika tujuan itu akhirnya tiba.”
Saya menikah pada tahun 2008.
Seperti pasangan muda pada umumnya, saya dan suami memulai kehidupan rumah tangga dengan mimpi-mimpi yang sederhana. Kami tidak memiliki cita-cita menjadi orang kaya dalam waktu singkat. Kami hanya ingin memiliki kehidupan yang cukup, keluarga yang harmonis, dan pekerjaan yang bisa menghidupi kami dengan layak.
Saat itu kami tinggal di Yogyakarta.
Di kota yang penuh kenangan itu, kami mencoba membangun usaha pertama kami, sebuah usaha laundry.
Usahanya tidak besar. Tempatnya sederhana. Peralatannya juga tidak banyak. Namun bagi kami, laundry itu bukan sekadar tempat mencuci pakaian. Laundry itu adalah simbol keberanian kami memulai kehidupan sebagai pasangan suami istri.
Saya masih ingat bagaimana rasanya menerima pelanggan pertama.
Rasanya sederhana, tetapi membahagiakan.
Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang mempercayakan pakaiannya kepada kami.
Saya belajar bahwa sebuah usaha tidak hanya dibangun dengan modal uang. Usaha juga dibangun dengan kepercayaan.
Kalau pelanggan percaya, mereka akan kembali.
Kalau mereka puas, mereka akan menceritakannya kepada orang lain.
Tanpa saya sadari, pelajaran pertama tentang bisnis sudah saya dapatkan sejak saat itu.
Bukan tentang keuntungan.
Tetapi tentang melayani.
Dua tahun kemudian, Tuhan mempercayakan kami seorang anak laki-laki.
Kehadiran anak pertama mengubah banyak hal dalam hidup saya.
Kalau sebelumnya saya hanya memikirkan diri sendiri dan suami, kini ada seorang bayi kecil yang seluruh hidupnya bergantung kepada kami.
Saya mulai memahami arti menjadi seorang ibu.
Setiap keputusan yang kami ambil tidak lagi hanya memengaruhi kami berdua, tetapi juga masa depan anak kami.
Pada masa itulah suami mendapatkan kesempatan membuka usaha di Semarang.
Setelah berdiskusi cukup lama, kami memutuskan untuk pindah.
Keputusan itu tidak mudah.
Artinya kami harus meninggalkan usaha laundry yang sudah kami bangun dari nol.
Laundry itu akhirnya kami jual.
Jujur, ada rasa sedih.
Karena saya tahu membangun sesuatu tidak pernah mudah.
Tetapi saya percaya bahwa setiap keputusan selalu memiliki konsekuensinya sendiri.
Saya memilih mengikuti suami.
Saya percaya, di mana pun keluarga berada, di situlah rumah saya.
Semarang menjadi rumah kami selama beberapa tahun berikutnya.
Saya belajar beradaptasi lagi.
Belajar mengenal lingkungan baru.
Belajar membangun kehidupan dari awal.
Sebagai seorang ibu, saya mulai terbiasa mengurus anak sambil membantu berbagai urusan keluarga.
Saya menikmati masa-masa itu.
Saya percaya hidup kami sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
Namun sekali lagi, hidup mengajarkan bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan.
Sekitar lima tahun kemudian kami kembali harus berpindah kota.
Kali ini ke Bandung.
Suami bersama kakak saya memiliki rencana mengembangkan usaha toko di kawasan BEC Bandung.
Kesempatan itu terlihat menjanjikan.
Kami kembali mengambil keputusan besar.
Pindah lagi.
Kalau dihitung-hitung, saya sudah beberapa kali membongkar rumah, mengepak barang, mengucapkan selamat tinggal kepada tetangga, lalu memulai kehidupan baru di kota lain.
Setiap kali pindah, saya selalu membawa harapan yang sama.
“Semoga kali ini semuanya berjalan lebih baik.”
Bandung memberikan banyak pengalaman baru.
Kota itu ramai.
Peluangnya besar.
Kami memiliki mimpi yang besar pula.
Dua toko dibeli secara bertahap melalui sistem cicilan.
Nominalnya tentu tidak kecil.
Saat itu saya masih memiliki tabungan.
Tabungan itu berasal dari berbagai sumber.
Dari uang angpao pernikahan.
Dari hasil penjualan laundry.
Dari keuntungan usaha-usaha yang pernah kami jalankan sebelumnya.
Saya merasa tenang.
Saya berpikir kami masih memiliki cadangan kalau suatu saat keadaan berubah.
Namun ternyata saya terlalu cepat merasa aman.
Sedikit demi sedikit tabungan itu mulai berkurang.
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan.
Saya berpikir itu hal yang wajar.
Namanya juga membangun usaha.
Pasti membutuhkan modal.
Tetapi bulan demi bulan berlalu.
Biaya hidup terus berjalan.
Anak-anak semakin besar.
Kebutuhan sekolah bertambah.
Cicilan tetap harus dibayar.
Keperluan usaha juga tidak sedikit.
Perlahan saya mulai melihat angka di rekening semakin mengecil.
Saya berusaha tetap tenang.
Saya berkata kepada diri sendiri,
“Nanti juga akan kembali.”
Namun kenyataannya tidak secepat itu.
Sampai suatu malam, saya membuka aplikasi mobile banking.
Saya masih ingat malam itu.
Rumah sudah sepi.
Anak-anak sudah tidur.
Saya duduk sendirian di ruang keluarga sambil memegang telepon genggam.
Saya membuka saldo rekening.
Lalu saya terdiam.
Angka yang muncul membuat saya tidak sanggup berkata apa-apa.
Tabungan yang dulu saya banggakan…
Tabungan yang saya kumpulkan bertahun-tahun…
Kini hanya tersisa sekitar 5 jutaan rupiah.
Saya melihat angka itu berkali-kali.
Berharap saya salah membaca.
Namun tidak.
Itulah kenyataannya.
Saya memejamkan mata.
Rasanya dada saya sesak.
Bukan karena uang itu.
Tetapi karena saya memikirkan anak-anak.
Sebagai seorang ibu, kita boleh hidup sederhana.
Kita boleh makan seadanya.
Tetapi melihat anak kekurangan adalah hal yang paling berat.
Saya membayangkan biaya sekolah mereka.
Kebutuhan sehari-hari.
Tagihan rumah.
Dan berbagai kebutuhan lain yang tidak bisa ditunda.
Malam itu saya tidak bisa tidur.
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala saya.
“Bagaimana kalau uang ini habis?”
“Bagaimana kalau usaha tidak membaik?”
“Bagaimana kalau saya tidak bisa membantu keluarga?”
Semakin saya berpikir, semakin saya merasa takut.
Lalu saya melakukan satu hal yang selalu menjadi tempat saya kembali ketika tidak tahu harus berbuat apa.
Saya berdoa.
Saya berkata pelan,
“Tuhan… Engkau memelihara burung pipit di udara. Burung itu tidak menanam dan tidak menuai, tetapi Engkau tetap memberi makan. Aku percaya Engkau juga tidak akan memberi anak-anak Mu makan.”
Doa itu sederhana.
Tetapi malam itu doa tersebut menjadi pegangan saya.
Saya tidak mendapatkan jawaban seketika.
Tidak ada mukjizat yang membuat saldo rekening tiba-tiba bertambah.
Tetapi saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Saya mendapatkan ketenangan.
Saya percaya bahwa Tuhan tidak meminta saya mengetahui seluruh jalan di depan.
Dia hanya meminta saya mengambil satu langkah berikutnya.
Dan saya memutuskan untuk melakukan hal itu.
Saya tidak akan menyerah.
Saya harus melakukan sesuatu.
Saya harus mulai lagi.
Saya tidak tahu usaha apa yang akan saya jalankan.
Saya tidak tahu dari mana uang itu akan datang.
Tetapi saya tahu satu hal.
Selama saya masih mau belajar, masih mau bekerja, dan masih mau berusaha, Tuhan pasti membuka jalan.
Malam ketika tabungan saya tinggal lima juta rupiah ternyata bukan akhir dari cerita saya.
Justru malam itulah…
babak baru kehidupan saya dimulai.
Malam itu saya tidak langsung tidur.
Saya masih duduk di ruang keluarga. Lampu rumah sudah dimatikan, hanya tersisa cahaya kecil dari layar telepon genggam yang masih menampilkan angka saldo rekening saya.
Rp5.000.000.
Angka itu terus memenuhi pikiran saya.
Saya mencoba menghitung berbagai kebutuhan dalam kepala.
Biaya sekolah anak.
Belanja dapur.
Tagihan listrik.
Transportasi.
Kebutuhan sehari-hari.
Semakin saya menghitung, semakin saya sadar bahwa uang itu tidak akan bertahan lama.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun menikah, saya benar-benar merasakan apa artinya tidak tahu harus memulai dari mana.
Sebagai seorang ibu, ada satu hal yang selalu saya usahakan.
Anak-anak tidak boleh ikut merasakan kecemasan orang tuanya.
Mereka tetap harus bisa tertawa.
Tetap bermain.
Tetap merasa bahwa rumah adalah tempat yang aman.
Karena itu keesokan paginya saya bangun seperti biasa.
Saya menyiapkan sarapan.
Mengantar anak.
Merapikan rumah.
Tidak ada yang tahu bahwa semalaman saya hampir tidak tidur.
Mungkin begitulah menjadi seorang ibu.
Sering kali kita menangis diam-diam supaya anak-anak tetap bisa tersenyum.
Beberapa hari setelah itu saya mulai berpikir lebih serius.
Saya bertanya kepada diri sendiri,
“Monika, apa yang bisa kamu lakukan?”
Saya tidak memiliki modal besar.
Saya juga tidak mempunyai pendidikan bisnis.
Saya bukan lulusan pemasaran.
Saya bukan orang yang memiliki banyak relasi.
Tetapi saya mempunyai satu hal.
Saya tidak malu belajar.
Kalau hari ini saya melihat kembali perjalanan hidup saya, mungkin itulah salah satu sifat yang Tuhan tanamkan sejak dulu.
Saya selalu senang mencoba hal baru.
Saya tidak pernah merasa sudah tahu segalanya.
Kalau ada sesuatu yang menarik, saya ingin mempelajarinya.
Kalau ada keterampilan baru, saya ingin mencobanya.
Mungkin karena itulah Tuhan kemudian membawa saya melewati begitu banyak bidang usaha.
Waktu itu saya belum memahami alasannya.
Saya hanya mengikuti kesempatan yang ada.
Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa semua pengalaman itu sedang mempersiapkan saya menjadi seorang pengusaha.
Saya kemudian memutuskan memulai sesuatu yang saat itu sedang berkembang.
Menjadi dropshipper.
Kalau mengingatnya sekarang, saya tersenyum sendiri.
Saya benar-benar menjual apa saja.
Bukan karena saya tidak punya prinsip.
Tetapi karena saat itu tujuan saya sederhana.
Saya harus mendapatkan penghasilan.
Apa pun produknya.
Selama legal.
Selama bermanfaat.
Selama ada pembelinya.
Saya akan menjualnya.
Saya mulai mencari supplier.
Belajar sistem dropship.
Belajar marketplace.
Belajar bagaimana menjawab chat pelanggan.
Belajar membuat foto produk.
Belajar mengemas barang.
Belajar menghadapi komplain.
Semuanya saya pelajari sendiri.
Tidak ada mentor.
Tidak ada kelas bisnis.
Tidak ada YouTube seperti sekarang.
Kalau tidak tahu, saya mencari tahu.
Kalau gagal, saya mencoba lagi.
Kalau salah, saya perbaiki.
Saya percaya bahwa belajar adalah investasi yang tidak pernah rugi.
Produk yang saya jual sangat beragam.
Kalau saya mengingat daftar barangnya sekarang, saya bahkan tertawa sendiri.
Saya pernah menjual karbol sereh.
Payung terbalik.
Mesin jahit mini.
Bulu mata.
Jas hujan anak.
Barang-barang impor dari Tiongkok.
Dan masih banyak lagi.
Teman-teman kadang bercanda,
“Monika, sebenarnya kamu jual apa sih? Semua barang dijual”
Saya hanya tertawa.
“Yang penting laku.”
Saya tidak pernah merasa malu menjual barang-barang itu.
Karena saya percaya, tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan jujur.
Justru dari situlah saya belajar satu pelajaran penting.
Pengusaha tidak boleh gengsi.
Kalau terlalu gengsi, kita akan kehilangan banyak kesempatan.
Saya belajar bahwa pelanggan tidak peduli siapa kita.
Mereka peduli apakah kita bisa memberikan solusi bagi kebutuhan mereka.
Sedikit demi sedikit usaha itu mulai berkembang.
Awalnya hanya beberapa pesanan.
Lalu bertambah.
Kemudian semakin banyak.
Ada masa ketika hampir setiap hari rumah saya dipenuhi kardus.
Ruang tamu berubah menjadi tempat menyusun paket.
Kamar tamu berubah menjadi Gudang penyimpanan barang dagangan yang berkoli-koli.
Lakban.
Resi pengiriman.
Saya masih ingat betapa bahagianya saya ketika melihat tumpukan paket yang siap dikirim.
Bagi orang lain mungkin itu hanya kardus.
Bagi saya, itu adalah harapan.
Satu paket berarti satu pelanggan.
Satu pelanggan berarti satu langkah lagi untuk mempertahankan keluarga kami.
Ada masa ketika saya bisa mengirim sekitar empat puluh paket dalam sehari.
Saya benar-benar menikmati pekerjaan itu.
Saya merasa mulai menemukan ritme.
Saya mulai memahami bagaimana dunia bisnis bekerja.
Namun seperti biasanya…
Ketika saya mulai merasa semuanya berjalan baik…
Kehidupan kembali memberi pelajaran baru.
Saya sering mengatakan bahwa menjadi pengusaha itu seperti belajar berenang di sungai yang arusnya terus berubah.
Ketika kita merasa sudah menemukan cara berenang yang benar, arusnya berubah lagi.
Dan kita harus belajar lagi.
Hal itulah yang terjadi pada usaha dropship saya.
Awalnya supplier hanya menjual kepada reseller.
Namun beberapa tahun kemudian mereka mulai masuk ke marketplace.
Mereka menjual langsung kepada konsumen.
Dengan harga yang jauh lebih murah.
Saya tidak bisa bersaing.
Margin keuntungan semakin tipis.
Penjualan perlahan menurun.
Saya mulai kehilangan pelanggan.
Dan sekali lagi…
Saya harus memulai dari nol.
Saya menutup laptop sore itu sambil menarik napas panjang.
Jujur, saya kecewa.
Saya sudah bekerja keras.
Tetapi keadaan berubah begitu cepat.
Saat itu saya sempat bertanya kepada Tuhan,
“Kenapa lagi?”
Namun sekarang, ketika saya melihat ke belakang, saya justru bersyukur.
Kalau bisnis jual barang-barang China saya tidak menurun…
Mungkin saya tidak akan pernah belajar membuat produk sendiri.
Kalau saya tidak belajar membuat produk…
Mungkin saya tidak pernah mengenal dunia fermentasi.
Kalau saya tidak mengenal fermentasi…
Mungkin Navaro House tidak pernah lahir.
Kadang Tuhan menutup satu pintu…
bukan untuk menghukum kita.
Tetapi supaya kita berjalan menuju pintu lain yang jauh lebih baik.
Tuhan Sedang Mengajari Saya, Walaupun Saya Belum Menyadarinya
“Tidak semua pekerjaan yang kita lakukan akan menjadi tujuan akhir. Ada pekerjaan yang Tuhan izinkan hanya untuk melatih kita sebelum memasuki panggilan yang sesungguhnya.”
Setelah usaha barang China mulai menurun, saya kembali berada di persimpangan.
Saya pernah berada di titik seperti itu beberapa kali dalam hidup. Rasanya seperti baru saja menyusun ribuan keping puzzle, tetapi sebelum gambar itu selesai, seseorang mengacaknya kembali.
Kalau mengingat masa itu sekarang, saya menyadari bahwa Tuhan sedang mengajarkan satu pelajaran penting.
Jangan pernah menggantungkan harapan pada satu cara mencari nafkah.
Dunia selalu berubah.
Teknologi berubah.
Pasar berubah.
Perilaku konsumen berubah.
Kalau saya tidak mau berubah, saya akan tertinggal.
Tetapi saat itu saya belum bisa melihatnya sejauh itu.
Yang saya rasakan hanyalah kebingungan.
Saya kembali bertanya pada diri sendiri,
“Sekarang aku harus belajar apa lagi?”
Kalimat itu terus berputar di kepala saya.
Lucunya, saya tidak pernah bertanya,
“Kenapa ini terjadi?”
Saya lebih sering bertanya,
“Apa yang harus kupelajari dari ini?”
Hari ini saya bersyukur memiliki cara berpikir seperti itu.
Karena pertanyaan itulah yang membuat saya terus bergerak maju.
Suatu hari saya mulai mengenal dunia essential oil karena tiba-tiba dihubungi sepupu untuk mencoba menjalankan bisnis MLM ini.
Awalnya saya hanya ingin mengetahui manfaatnya untuk keluarga.
Sebagai seorang ibu, saya selalu berusaha memilih produk yang lebih alami jika memang memungkinkan.
Saya mulai membaca.
Mengikuti webinar.
Membeli cerita.
Menonton video.
Saya ingin memahami, bukan sekadar ikut tren.
Semakin banyak saya belajar, semakin saya menyadari bahwa alam menyediakan begitu banyak hal yang luar biasa.
Saya mulai mengenal minyak atsiri.
Mulai belajar tentang bahan alami.
Mulai memperhatikan apa saja yang saya gunakan setiap hari.
Tanpa saya sadari, pola pikir saya perlahan berubah.
Saya menjadi lebih peduli terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh.
Lebih peduli terhadap bahan-bahan yang saya gunakan.
Lebih peduli terhadap proses pembuatannya.
Perubahan cara berpikir itu kelak menjadi fondasi penting ketika saya membangun Navaro House.
Namun saat itu saya belum mengetahuinya.
Dari dunia essential oil, saya kemudian tertarik belajar membuat berbagai produk sendiri.
Saya berpikir,
“Kalau bisa membuat sendiri dengan bahan yang saya pahami, kenapa tidak?”
Awalnya saya belajar membuat sabun.
Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan.
Saya harus memahami minyak, alkali, suhu, proses saponifikasi, hingga masa curing.
Beberapa kali hasilnya gagal.
Ada sabun yang terlalu lunak.
Ada yang terlalu keras.
Ada yang retak.
Ada yang aromanya berubah.
Saya sempat kecewa.
Namun setiap kali gagal, saya justru semakin penasaran.
Saya ingin tahu letak kesalahannya.
Saya ingin memperbaikinya.
Saya mulai menyadari bahwa saya memang menikmati proses belajar.
Saya tidak keberatan mengulang berkali-kali selama akhirnya mengerti.
Mungkin sifat itulah yang kemudian membuat saya mampu bertahan ketika belajar fermentasi.
Karena fermentasi juga tidak pernah berhasil hanya dalam satu kali percobaan.
Setelah sabun, saya mulai belajar membuat lotion.
Kemudian produk-produk alami lainnya.
Saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca formulasi.
Mempelajari karakter setiap bahan.
Mencatat hasil percobaan.
Mengubah komposisi sedikit demi sedikit.
Rumah saya perlahan berubah menjadi laboratorium kecil.
Di atas meja ada gelas ukur.
Timbangan digital.
Botol-botol kecil.
Minyak.
Bahan baku.
Cerita catatan.
Kalau ada orang masuk ke rumah saat itu, mungkin mereka akan bingung.
Saya bukan apoteker.
Bukan ahli kimia.
Tetapi saya menikmati setiap prosesnya.
Saya merasa sedang menemukan bagian dari diri saya yang selama ini tersembunyi.
Saya ternyata senang bereksperimen.
Saya senang mengamati perubahan kecil.
Saya senang mencari tahu mengapa suatu formulasi berhasil dan yang lain gagal.
Tanpa sadar, saya sedang melatih kemampuan yang kelak sangat berguna ketika mulai membuat kombucha.
Pada masa itu media sosial juga mulai berkembang.
Banyak orang mulai membuat konten.
Awalnya saya hanya menjadi penonton.
Saya menikmati melihat orang lain berbagi pengalaman.
Namun suatu hari saya berpikir,
“Kalau mereka bisa berbagi ilmu, kenapa aku tidak?”
Jujur saja, keputusan itu membuat saya takut.
Saya bukan orang yang percaya diri tampil di depan kamera.
Saya lebih nyaman berada di balik layar.
Saya sering merasa suara saya kurang bagus.
Cara bicara saya biasa saja.
Saya juga bukan orang yang pandai merangkai kata.
Tetapi saya mencoba.
Video pertama yang saya buat terasa sangat canggung.
Saya merekam berkali-kali.
Kalau salah bicara, saya ulang dari awal.
Kalau wajah saya terlihat aneh, saya ulang lagi.
Bahkan hanya untuk membuat video beberapa menit, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam.
Hari ini kalau melihat video-video lama itu, saya sering tersenyum sendiri.
Ternyata saya memang sangat kaku.
Tetapi saya tidak malu.
Karena saya tahu, semua orang hebat juga pernah menjadi pemula.
Sedikit demi sedikit saya mulai terbiasa.
Saya belajar bagaimana berbicara kepada kamera seolah-olah sedang berbicara dengan seorang teman.
Saya belajar bahwa orang tidak mencari kesempurnaan.
Mereka mencari kejujuran.
Semakin saya berbicara apa adanya, semakin banyak orang yang merasa dekat.
Saya tidak pernah berpura-pura menjadi ahli.
Kalau saya belum tahu, saya mengatakan belum tahu.
Kalau saya masih belajar, saya mengatakan saya masih belajar.
Anehnya, justru sikap itu membuat banyak orang percaya.
Hari itu saya belajar satu pelajaran penting.
Kepercayaan tidak lahir dari kesempurnaan.
Kepercayaan lahir dari kejujuran.
Pelajaran itu saya bawa sampai hari ini dalam menjalankan Navaro House.
Saya tidak pernah menjanjikan produk yang sempurna.
Tetapi saya selalu berusaha jujur tentang bagaimana produk itu dibuat.
Beberapa video yang saya buat mulai banyak ditonton.
Ada yang bertanya.
Ada yang meminta diajari.
Ada yang ingin membeli produk.
Awalnya saya merasa heran.
“Masa sih ada orang yang mau belajar dariku?”
Namun ternyata memang ada.
Saya mulai mengadakan kelas kecil.
Lalu kelas berikutnya.
Jumlah pesertanya terus bertambah.
Saya mulai mengenal orang-orang dari berbagai kota.
Saya mendengarkan cerita mereka.
Ada ibu rumah tangga yang ingin mempunyai penghasilan tambahan.
Ada guru.
Ada karyawan.
Ada pensiunan.
Ada mahasiswa.
Mereka datang dengan alasan yang berbeda-beda.
Tetapi semuanya mempunyai semangat yang sama.
Mau belajar.
Melihat antusiasme mereka membuat saya semakin yakin bahwa ilmu memang seharusnya dibagikan.
Semakin dibagikan, justru semakin bertambah.
Saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti saya bisa mengajar ratusan orang.
Padahal dulu saya bahkan takut berbicara di depan kamera.
Kalau hari ini ada orang bertanya kepada saya,
“Apa modal terbesar yang kamu miliki sebelum membangun Navaro House?”
Jawaban saya mungkin akan mengejutkan.
Bukan uang.
Bukan peralatan.
Bukan relasi.
Modal terbesar saya adalah tidak pernah menolak kesempatan, mau keluar dari zona nyaman dan berusaha mencoba hal yang baru atau kebiasaan belajar.
Karena setiap usaha yang pernah saya jalani selalu meninggalkan bekal.
Laundry mengajari saya melayani pelanggan.
Dropship mengajari saya menjual.
Essential oil mengajari saya memilih bahan yang baik.
Sabun mengajari saya pentingnya formulasi.
Konten mengajari saya berkomunikasi.
Mengajar mengajari saya menyampaikan ilmu dengan sederhana.
Saat itu saya belum tahu untuk apa semua pelajaran itu.
Tetapi Tuhan tahu.
Dia sedang menyusun bekal demi bekal.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya datang sebuah peristiwa yang mengubah arah hidup saya.
Peristiwa yang bukan hanya mengubah usaha saya.
Tetapi juga mengubah cara saya memandang kesehatan.
Sebuah peristiwa yang bermula dari sesuatu yang tidak pernah diperkirakan siapa pun.
Pandemi COVID-19.

Pandemi yang Mengubah Arah Hidup Saya
“Kadang-kadang Tuhan tidak mengubah hidup kita melalui sesuatu yang besar. Dia mengubahnya melalui satu keputusan kecil yang kita ambil pada saat dunia sedang tidak baik-baik saja.”
Awal tahun 2020.
Saya rasa hampir semua orang masih mengingat suasana saat itu.
Berita tentang virus baru mulai memenuhi televisi. Awalnya terasa sangat jauh. Virus itu berasal dari negara lain, dan saya berpikir seperti banyak orang lainnya, “Mungkin tidak akan sampai ke Indonesia.”
Namun ternyata saya salah.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, virus itu mulai menyebar ke berbagai daerah. Sekolah ditutup. Perkantoran menerapkan bekerja dari rumah. Jalan-jalan yang biasanya ramai mulai lengang. Pusat perbelanjaan sepi. Orang-orang takut keluar rumah.
Saya masih ingat suasana itu.
Ada rasa tidak pasti yang menyelimuti hampir semua orang.
Tidak ada yang tahu pandemi ini akan berlangsung berapa lama.
Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan ekonomi ke depan.
Dan seperti jutaan keluarga lainnya, keluarga kami juga ikut merasakan dampaknya.
Usaha-usaha melambat.
Daya beli masyarakat menurun.
Semua orang sedang berusaha bertahan.
Di tengah keadaan seperti itu, saya mulai lebih banyak berada di rumah.
Rutinitas berubah.
Aktivitas di luar berkurang.
Saya mempunyai lebih banyak waktu untuk membaca dan belajar.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin Tuhan memang sengaja memperlambat langkah saya saat itu.
Karena kalau hidup terus berjalan secepat sebelumnya, mungkin saya tidak pernah mempunyai waktu untuk menemukan dunia yang akan mengubah hidup saya.
Selama pandemi saya mulai semakin memperhatikan kesehatan.
Bukan karena saya panik.
Tetapi karena saya menyadari satu hal.
Tubuh adalah aset yang tidak tergantikan.
Kita bisa bekerja keras.
Kita bisa mengejar uang.
Tetapi kalau tubuh tidak sehat, semua itu menjadi tidak berarti.
Saya mulai membaca berbagai artikel.
Mengikuti webinar.
Mencari tahu bagaimana menjaga daya tahan tubuh.
Bagaimana memilih makanan.
Bagaimana memperbaiki pola hidup.
Saya tidak percaya pada jalan pintas.
Saya lebih percaya pada kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Di tengah proses belajar itulah saya mulai mengenal kombucha.
Awalnya saya tidak terlalu tertarik.
Saya hanya tahu bahwa kombucha adalah teh yang difermentasi.
Rasanya sedikit asam.
Ada gelembung alami.
Itu saja.
Namun semakin saya membaca, semakin saya penasaran.
Bagaimana mungkin teh dan gula bisa berubah menjadi minuman yang sama sekali berbeda?
Apa yang sebenarnya terjadi selama proses fermentasi?
Siapa yang bekerja?
Mengapa rasanya berubah?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya semakin ingin belajar.
Saya membeli starter.
Membaca panduan.
Menonton video.
Lalu suatu hari saya memberanikan diri membuat kombucha pertama saya.
Saya masih ingat sekali saat menyiapkan batch pertama itu.
Air dipanaskan.
Teh diseduh.
Gula dilarutkan.
Setelah suhunya turun, saya memasukkan starter dan SCOBY ke dalam toples kaca.
Kemudian…
Saya hanya bisa menunggu.
Bagi orang yang terbiasa memasak, proses menunggu mungkin terasa membosankan.
Tetapi bagi saya justru menarik.
Karena saya tidak benar-benar melihat apa yang sedang terjadi.
Saya hanya tahu bahwa di dalam toples itu ada jutaan mikroorganisme yang sedang bekerja.
Hari demi hari saya memperhatikan perubahan kecil.
Permukaan cairan mulai membentuk lapisan tipis.
Aromanya berubah.
Rasanya berubah.
Warnanya sedikit berubah.
Saya merasa seperti sedang menyaksikan keajaiban kecil.
Bukan keajaiban yang terjadi dalam sekejap.
Tetapi keajaiban yang tumbuh perlahan.
Saat itu saya belum berpikir untuk berjualan.
Sama sekali belum.
Saya membuat kombucha hanya untuk diminum sendiri.
Saya memang memiliki masalah yang cukup mengganggu sejak lama.
Pencernaan saya tidak terlalu baik.
Kadang saya baru buang air besar beberapa hari sekali.
Mungkin bagi sebagian orang itu terdengar sepele.
Tetapi bagi yang mengalaminya, rasa tidak nyaman itu sangat mengganggu.
Perut terasa penuh.
Tubuh terasa berat.
Aktivitas sehari-hari menjadi kurang nyaman.
Saya sudah mencoba berbagai cara, mulai suka minum obat pencahar, minum minuman fiber, teh jati Cina dan banyak produk yang melancarkan buang air besar.
Mengatur makan.
Memperbanyak buah.
Memperbanyak air putih.
Sebagian membantu.
Tetapi belum benar-benar mengatasi masalahnya.
Saya tidak berharap terlalu banyak ketika mulai minum kombucha.
Saya hanya ingin mencoba.
Kalau cocok, syukur.
Kalau tidak, setidaknya saya sudah belajar sesuatu yang baru.
Beberapa minggu kemudian saya mulai merasakan perubahan.
Perubahannya tidak dramatis.
Tidak seperti iklan yang menjanjikan hasil instan.
Justru perubahan itu sangat pelan.
Tetapi nyata.
Saya merasa pencernaan saya lebih nyaman.
Tubuh terasa lebih ringan.
Saya mulai lebih rutin buang air besar.
Saat itulah saya mulai berpikir,
“Kalau saya bisa merasakan perubahan seperti ini, mungkin ada orang lain yang juga bisa merasakannya.”
Pikiran itu belum berubah menjadi ide bisnis.
Masih sangat jauh.
Saya hanya merasa bersyukur telah menemukan sesuatu yang cocok untuk saya.
Semakin sering membuat kombucha, semakin saya jatuh cinta pada proses fermentasinya.
Saya mulai menyadari bahwa fermentasi mengajarkan filosofi hidup yang sangat indah.
Kita hidup di zaman yang serba cepat.
Semua orang ingin hasil instan.
Ingin sukses cepat.
Ingin kaya cepat.
Ingin terkenal cepat.
Namun fermentasi mengajarkan hal yang sebaliknya.
Kalau dipanen terlalu cepat…
Kombucha masih terlalu manis.
Belum matang.
Kalau dipanen terlalu lama…
Rasanya menjadi terlalu asam.
Tidak seimbang.
Artinya ada waktu yang tepat.
Ada proses yang tidak bisa dipercepat.
Saya sering tersenyum sendiri memikirkan hal itu.
Bukankah hidup manusia juga seperti itu?
Ada doa yang belum dijawab bukan karena Tuhan menolak.
Mungkin karena kita belum siap menerimanya.
Ada mimpi yang belum tercapai bukan karena Tuhan tidak peduli.
Mungkin karena karakter kita masih sedang dibentuk.
Semakin saya memahami fermentasi, semakin saya merasa sedang belajar tentang kehidupan.
Lama-kelamaan keluarga saya mulai ikut mencoba kombucha, mertua, orang tua dan adek. Suami dan anak-anak memang, dari awal saya membuat mereka sudah tidak suka aromanya itu membuat mereka tidak mau mencoba.
Awalnya keluarga penasaran.
Reaksi mereka bermacam-macam.
Ada yang langsung suka.
Ada yang berkata,
“Rasanya unik ya.”
Ada yang masih perlu waktu untuk terbiasa.
Saya tidak memaksa siapa pun.
Saya percaya setiap orang mempunyai selera yang berbeda.
Tetapi melihat mereka mau mencoba saja sudah membuat saya senang.
Beberapa teman juga mulai bertanya.
“Mon, kamu bikin sendiri?”
Saya mengangguk.
“Iya, lagi belajar.”
Mereka meminta mencicipi.
Lalu bertanya lagi,
“Kalau mau beli bisa?”
Pertanyaan sederhana itu terdengar biasa.
Namun justru dari pertanyaan itulah benih Navaro House mulai tumbuh.
Saat itu saya masih menjawab,
“Belum dijual.”
Karena memang saya belum pernah berpikir menjadikannya usaha.
Saya masih menikmati menjadi murid.
Masih menikmati proses belajar.
Saya ingin benar-benar memahami kombucha sebelum suatu hari nanti memberikannya kepada orang lain.
Saya percaya bahwa orang yang menjual sesuatu seharusnya mengenal produknya dengan baik.
Dan saya belum merasa cukup tahu.
Saya terus belajar.
Membaca jurnal.
Membandingkan metode fermentasi.
Mencatat hasil setiap batch.
Mengubah sedikit komposisi.
Mengamati perubahan rasa.
Saya membuat catatan kecil di sebuah cerita.
Tanggal produksi.
Suhu ruangan.
Lama fermentasi.
Hasil rasa.
Semua saya tulis.
Saat itu saya belum sadar bahwa kebiasaan mencatat inilah yang kelak sangat membantu ketika produksi semakin besar.
Sekali lagi Tuhan sedang melatih saya.
Melalui hal-hal kecil.
Tanpa saya sadari.
Kalau ada satu kalimat yang menggambarkan hidup saya saat itu, mungkin kalimat ini yang paling tepat.
Saya belum tahu ke mana Tuhan sedang membawa saya.
Tetapi saya menikmati setiap langkahnya.
Saya tidak tahu bahwa beberapa bulan kemudian akan terjadi sebuah peristiwa yang mengubah semuanya.
Peristiwa yang bermula dari sakitnya papa saya, kena serangan jantung di Bali. Saya langsung ke Bali menemani papa di rumah sakit, kemudian setelah keluar dari rumah sakitpun kami masih stay di Bali untuk menenangkan pikiran setelah agak shock papa kena serangan Jantung. Setelah bisa pulang ke Yogya pun saya masih menemani papa di Yogya cukup lama. Hal ini yang membuat saya telat panen Kombucha sampai sebulan lebih.
Selain itu peristiwa yang membuat saya bolak-balik Yogyakarta.
Peristiwa yang menyebabkan kombucha saya terlambat dipanen.
Peristiwa yang menghasilkan begitu banyak SCOBY.
Dan tanpa saya sadari… Peristiwa itulah yang menjadi awal lahirnya Navaro House.

Papa Sakit dan Mukjizat Bernama SCOBY
“Sering kali kita menyebutnya kebetulan. Padahal setelah melihat ke belakang, kita baru sadar bahwa Tuhan sedang menyusun jalan yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.”
Kalau pandemi menjadi awal saya mengenal kombucha, maka sakitnya papa menjadi awal lahirnya Navaro House.
Sampai hari ini, saya masih sering merenungkan bagaimana semua itu bisa terjadi.
Kalau hanya melihat satu per satu peristiwanya, semuanya tampak biasa.
Seorang ayah yang sakit.
Seorang anak yang pulang menjenguk orang tuanya.
Beberapa toples kombucha yang terlambat dipanen.
SCOBY yang semakin banyak.
Semuanya terlihat seperti kejadian sehari-hari.
Namun ketika semua peristiwa itu disusun menjadi satu rangkaian, saya baru menyadari bahwa tidak ada satu pun yang terjadi secara kebetulan.
Sejak Papa kena serangan Jantung membuat saya harus sering menemani.
Sebagai seorang anak, tentu saya ingin lebih banyak berada di dekat beliau.
Walaupun saya tinggal di Semarang saat itu, saya menjadi lebih sering pulang ke Yogyakarta.
Perjalanan Semarang–Yogyakarta bukan perjalanan yang sebentar karena jaman itu belum ada Tol.
Setiap kali pulang, saya harus meninggalkan rutinitas yang sedang berjalan di rumah.
Saya harus mengatur waktu.
Mengatur pekerjaan.
Mengatur keluarga.
Tetapi semua itu terasa tidak penting dibandingkan kesempatan menemani orang tua.
Semakin dewasa, saya semakin menyadari bahwa waktu bersama orang tua adalah sesuatu yang tidak bisa diulang.
Pekerjaan bisa menunggu.
Uang bisa dicari lagi.
Tetapi waktu bersama mereka tidak akan pernah kembali.
Karena itulah saya memilih lebih sering pulang.
Di rumah Semarang, saya masih tetap membuat kombucha.
Namun karena harus bolak-balik Yogyakarta, saya tidak selalu berada di rumah ketika masa panennya tiba.
Beberapa batch akhirnya terlambat dipanen.
Kalau dulu saya mungkin akan panik.
Saya akan merasa gagal.
Saya akan berpikir semua usaha saya sia-sia.
Namun saat itu saya justru penasaran.
“Apa yang terjadi kalau kombucha dibiarkan lebih lama?”
Saya mulai mengamatinya.
Rasa kombucha memang berubah.
Lebih asam.
Tetapi ada hal lain yang menarik perhatian saya.
Lapisan SCOBY di permukaan semakin tebal.
Semakin hari semakin besar.
Setiap kali panen, saya mendapatkan SCOBY baru.
Lalu batch berikutnya menghasilkan SCOBY lagi.
Lama-kelamaan jumlahnya semakin banyak.
Awalnya saya hanya menyimpannya.
Saya berpikir mungkin suatu hari akan berguna.
Namun lama-kelamaan wadah penyimpanan mulai penuh.
Toples demi toples berisi SCOBY.
Saya melihat tumpukan itu sambil tersenyum.
“Ini harus diapakan ya?”
Saya bahkan sempat bercanda kepada diri sendiri,
“Masa setiap minggu cuma nambah penghuni kulkas?”
Saya sama sekali belum berpikir untuk menjualnya.
Suatu sore saya sedang membersihkan area penyimpanan SCOBY.
Saya melihat jumlahnya benar-benar banyak.
Terlalu banyak untuk dipakai sendiri.
Di situlah muncul satu ide sederhana.
“Bagaimana kalau saya coba jual?”
Bukan karena saya melihat peluang bisnis besar.
Bukan karena saya membuat perhitungan pasar.
Jujur saja, alasannya sangat sederhana.
Daripada menumpuk dan tidak digunakan, mungkin ada orang lain yang membutuhkannya.
Saya kemudian memotret SCOBY tersebut.
Fotonya sangat sederhana.
Tidak memakai kamera profesional.
Tidak memakai pencahayaan studio.
Hanya foto apa adanya.
Lalu saya mengunggahnya ke marketplace.
Saya tidak berekspektasi apa-apa.
Kalau laku, syukur.
Kalau tidak, tidak masalah.
Saya menutup aplikasi dan melanjutkan pekerjaan lain.
Beberapa jam kemudian terdengar suara notifikasi.
“Pesanan baru.”
Saya membuka aplikasi.
Ternyata ada seseorang membeli SCOBY saya.
Entah mengapa saya langsung tersenyum.
Bukan karena nominal uangnya karena pertama kali jual Scoby Jumbo dengan harga 35.000.
Tetapi karena saya baru sadar bahwa ternyata ada orang lain yang juga ingin belajar membuat kombucha.
Saya segera menyiapkan paket pertama itu.
Saya membersihkan SCOBY dengan hati-hati.
Memasukkannya bersama starter.
Mengemasnya sebaik mungkin.
Lalu mengantarkannya untuk dikirim.
Ketika paket itu berpindah ke tangan petugas ekspedisi, saya tidak tahu bahwa saya sedang mengirim lebih dari sekadar selembar SCOBY.
Saya sedang mengirim awal dari sebuah perjalanan baru.
Pesanan kedua datang.
Lalu ketiga.
Kemudian mulai berdatangan dari berbagai kota.
Saya mulai menerima pesan dari pembeli.
Ada yang bertanya bagaimana cara membuat kombucha.
Ada yang takut gagal.
Ada yang belum pernah melihat SCOBY sebelumnya.
Saya menjawab satu per satu.
Kadang jawaban saya sangat panjang.
Saya ingin mereka berhasil.
Saya tahu bagaimana rasanya menjadi pemula.
Saya juga pernah bingung.
Saya juga pernah takut gagal.
Kalau saya bisa membantu mereka melewati tahap itu, saya ingin melakukannya.
Tanpa saya sadari, saya bukan hanya menjual SCOBY.
Saya sedang membangun kepercayaan.
Saya mulai mengenal banyak orang.
Ada ibu rumah tangga yang ingin membuat kombucha untuk keluarga.
Ada mahasiswa yang sedang sedang mengerjakan tugas wirausaha dan mereka memilih Teh fermentasi Kombucha.
Ada karyawan yang ingin mencoba usaha sampingan.
Ada pemilik kafe yang penasaran dengan kombucha.
Setiap orang datang dengan cerita yang berbeda.
Dan saya menikmati setiap percakapan itu.
Saya mulai menyadari bahwa saya senang berbagi ilmu.
Kalau pembeli berhasil membuat kombucha pertamanya, saya ikut bahagia.
Kalau mereka mengirim foto hasil fermentasi, saya ikut bangga.
Rasanya seperti melihat seorang murid berhasil memahami pelajaran yang pernah membuat saya bingung.
Pada saat itulah saya mulai berpikir.
“Kalau orang membeli SCOBY, mungkin suatu hari mereka juga ingin mencoba kombucha yang sudah jadi.”
Pikiran itu datang perlahan.
Tidak sekaligus.
Saya tidak langsung berlari membeli botol.
Tidak langsung menyewa tempat produksi.
Saya hanya mulai membayangkan kemungkinan.
Bagaimana kalau saya membuat kombucha dengan kualitas yang benar-benar saya percaya?
Bagaimana kalau saya hanya menggunakan bahan-bahan yang saya sendiri mau minum?
Bagaimana kalau saya memanen kombucha tepat pada waktunya, bukan terlalu muda dan bukan terlalu tua?
Semakin saya memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, semakin besar keinginan saya untuk mencoba.
Sekarang ketika saya melihat ke belakang, saya sering tersenyum sendiri.
Siapa yang menyangka bahwa sakitnya papa membawa saya lebih sering pulang ke Yogyakarta.
Siapa yang menyangka bahwa perjalanan bolak-balik itu membuat kombucha terlambat dipanen.
Siapa yang menyangka bahwa keterlambatan panen menghasilkan begitu banyak SCOBY.
Siapa yang menyangka bahwa SCOBY itu kemudian dijual.
Dan siapa yang menyangka bahwa dari sanalah lahir sebuah usaha yang hari ini dikenal sebagai Navaro House.
Kalau hanya melihat satu kejadian, semuanya tampak biasa.
Tetapi ketika semuanya dirangkai, saya melihat tangan Tuhan bekerja dengan sangat indah.
Saya semakin percaya bahwa hidup tidak selalu harus dimengerti ketika sedang dijalani.
Kadang kita baru memahami alasan di balik setiap peristiwa setelah bertahun-tahun kemudian.
Dan saya bersyukur karena saya memilih tetap melangkah, walaupun saat itu saya belum tahu ke mana langkah kecil itu akan membawa saya.
Karena dari langkah kecil itulah…
sebuah mimpi mulai menemukan bentuknya.
Sebuah Nama, Sebuah Doa, dan Sebuah Mimpi
“Sebuah usaha bisa lahir karena melihat peluang. Tetapi ada usaha yang lahir karena sebuah doa.”
Setelah beberapa bulan menjual SCOBY dan starter kombucha, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Awalnya saya hanya ingin membantu orang lain belajar membuat kombucha.
Namun lama-kelamaan saya mulai mengenal para pelanggan saya.
Hampir setiap hari ada pesan yang masuk.
Ada yang bertanya bagaimana cara menyeduh teh.
Ada yang bingung karena kombuchanya terlalu asam.
Ada yang takut SCOBY-nya mati.
Ada yang panik melihat lapisan putih muncul di permukaan.
Saya menjawab semuanya satu per satu.
Kadang jawaban saya bisa sangat panjang.
Saya menggambar.
Mengirim foto.
Bahkan sesekali membuat video singkat agar mereka lebih mudah memahami.
Suami saya pernah bercanda,
“Kamu jual SCOBY atau buka sekolah?”
Saya hanya tertawa.
Memang benar.
Kadang waktu yang saya habiskan menjelaskan jauh lebih lama daripada proses menjualnya.
Tetapi saya menikmatinya.
Saya percaya, ketika seseorang membeli dari saya, mereka tidak hanya membeli produk.
Mereka juga membeli rasa aman.
Mereka ingin tahu bahwa kalau suatu hari mereka mengalami kesulitan, ada orang yang bisa mereka tanyai.
Tanpa saya sadari, saya sedang membangun sesuatu yang jauh lebih penting daripada penjualan.
Saya sedang membangun kepercayaan.
Dan saya baru memahami bertahun-tahun kemudian bahwa kepercayaan adalah aset terbesar dalam sebuah bisnis.
Semakin hari pesanan semakin bertambah.
Memang belum banyak.
Kadang hanya satu paket.
Kadang dua.
Kadang tidak ada sama sekali.
Namun saya selalu merasa bersemangat setiap kali ada notifikasi pesanan masuk.
Saya masih ingat bagaimana rasanya membungkus satu paket pertama.
Saya memilih plastik yang paling baik.
Saya memastikan starter tidak bocor.
Saya membungkusnya dengan hati-hati menggunakan bubble wrap.
Saya menuliskan alamat pembeli sambil berdoa dalam hati.
“Semoga sampai dengan selamat.”
Mungkin bagi orang lain itu hanya satu paket.
Tetapi bagi saya, paket itu adalah simbol.
Ada seseorang yang belum pernah bertemu saya, tetapi bersedia mempercayai saya.
Kepercayaan seperti itu tidak boleh disia-siakan.
Saat itu saya mulai berpikir lebih jauh.
Kalau saya ingin usaha ini bertumbuh, saya tidak bisa selamanya menjual tanpa identitas.
Saya membutuhkan sebuah nama.
Bukan sekadar nama untuk toko online.
Tetapi nama yang memiliki arti.
Nama yang setiap kali saya ucapkan akan mengingatkan saya kepada alasan mengapa usaha ini dibangun.
Saya tidak ingin memilih nama yang sedang tren.
Saya juga tidak ingin memilih nama yang terdengar asing hanya supaya terlihat modern.
Saya ingin nama yang dekat dengan hati saya.
Saya ingin nama yang setiap kali saya lihat, saya langsung teringat keluarga.
Karena bagi saya, keluarga adalah alasan mengapa saya terus berjuang.
Suatu malam saya duduk sambil membawa buku catatan.
Saya mulai menuliskan berbagai nama.
Ada banyak sekali.
Sebagian terdengar bagus.
Sebagian terdengar unik.
Tetapi tidak ada yang benar-benar terasa pas.
Saya menutup cerita itu.
Lalu tanpa sengaja saya memandangi kedua anak saya yang sedang bermain.
Saat itulah muncul sebuah ide.
Mengapa tidak memakai sesuatu yang berasal dari mereka?
Bukankah merekalah alasan terbesar saya membangun semua ini?
Saya kemudian mengambil sebagian nama mereka.
Menggabungkannya.
Mencoba berbagai kombinasi huruf.
Saya menghapus.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Sampai akhirnya terbentuk satu nama.
Navaro.
Saya mengucapkannya pelan.
“Na-va-ro.”
Semakin diucapkan, semakin terasa akrab.
Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Nama itu sederhana.
Mudah diingat.
Dan yang paling penting…
mengandung bagian dari orang-orang yang paling saya cintai kedua anakku. Nama Navaro mulai aku pakai dari awal usaha jual barang China menjadi Navaro Shop, sedang menjual Essential oil menjadi Navaro Oil Living, dan sekarang…
Saya kemudian menambahkan satu kata lagi.
House.
Mengapa House?
Karena saya tidak ingin orang melihat Navaro hanya sebagai sebuah merek minuman.
Saya ingin Navaro menjadi sebuah rumah.
Rumah bagi orang-orang yang ingin hidup lebih sehat.
Rumah bagi orang-orang yang ingin belajar fermentasi.
Rumah bagi pelanggan yang mencari produk alami.
Rumah bagi siapa saja yang ingin bertumbuh bersama.
Maka lahirlah sebuah nama.
Navaro House.
Sederhana.
Tetapi penuh doa.
Ketika logo pertama selesai dibuat, saya memandanginya cukup lama.
Mungkin bagi orang lain itu hanya sebuah gambar.
Tetapi bagi saya, logo itu adalah bukti bahwa sebuah mimpi mulai mempunyai bentuk.
Saya kemudian mulai memikirkan banyak hal.
Bagaimana desain labelnya?
Botol seperti apa yang akan digunakan?
Bagaimana agar produk terlihat sederhana tetapi tetap elegan?
Saya tidak mempunyai latar belakang desain.
Semua saya pelajari sendiri.
Saya melihat banyak contoh.
Membaca.
Mengamati.
Lalu mencoba.
Kadang hasilnya bagus.
Lebih sering tidak.
Saya berkali-kali mengubah desain.
Mengubah warna.
Mengubah tulisan.
Mengubah tata letak.
Saya percaya bahwa sebuah produk yang baik pantas mendapatkan kemasan yang baik pula.
Namun saya selalu mengingatkan diri sendiri pada satu hal.
Kemasan boleh menarik, tetapi kualitas harus jauh lebih menarik.
Saya tidak ingin orang membeli sekali karena desainnya bagus, lalu kecewa ketika meminumnya.
Saya ingin yang terjadi justru sebaliknya.
Orang mungkin membeli karena penasaran dengan kemasannya.
Tetapi mereka kembali membeli karena kualitasnya.
Karena itu saya menghabiskan lebih banyak waktu memperbaiki produk dibanding mempercantik tampilannya.
Saya mencoba berbagai jenis teh.
Membandingkan rasa.
Mengubah lama fermentasi.
Menguji tingkat kemanisan.
Saya bahkan sering meminta keluarga menjadi “panelis.”
“Coba diminum. Menurutmu bagaimana?”
Jawabannya bermacam-macam.
Kadang terlalu asam.
Kadang kurang segar.
Kadang aromanya terlalu kuat.
Semua masukan saya catat.
Saya tidak tersinggung.
Justru saya senang.
Karena setiap kritik membuat produk saya sedikit lebih baik.
Seiring waktu saya mulai menemukan satu prinsip yang sampai hari ini tetap saya pegang.
Saya tidak ingin membuat kombucha sebanyak mungkin.
Saya ingin membuat kombucha sebaik mungkin.
Banyak orang bertanya kepada saya,
“Apa rahasia rasa kombucha Navaro House?”
Jawaban saya sebenarnya sederhana.
Dipanen pada waktu yang tepat.
Kalau dipanen terlalu cepat, rasa teh masih terlalu dominan dan gula belum difermentasi dengan baik.
Kalau dipanen terlalu lama, rasa asamnya menjadi terlalu tajam.
Saya percaya bahwa setiap batch mempunyai waktunya sendiri.
Dan tugas saya adalah menghormati proses itu.
Semakin saya menjalankan usaha ini, semakin saya sadar bahwa hidup saya juga seperti kombucha.
Kalau Tuhan memaksa saya berhasil terlalu cepat, mungkin karakter saya belum siap.
Kalau terlalu lama, mungkin saya sudah kehilangan semangat.
Ternyata Tuhan juga mempunyai waktu panen-Nya sendiri.
Dan saya belajar untuk mempercayai waktu itu.
Hari demi hari Navaro House mulai bertumbuh.
Masih kecil.
Masih sangat sederhana.
Tetapi saya mulai berani bermimpi.
Saya membayangkan suatu hari nanti orang datang bukan hanya membeli produk.
Mereka datang karena percaya kepada nilai yang kami pegang.
Menggunakan bahan alami.
Tidak menggunakan pengawet.
Tidak menggunakan pemanis buatan.
Tidak menggunakan perasa buatan.
Setiap varian rasa menggunakan bahan aslinya, baik buah-buahan maupun bunga-bungan dan rempah.
Menghargai proses.
Menghargai alam.
Menghargai pelanggan.
Saat itu saya belum tahu seberapa jauh mimpi ini akan membawa saya.
Tetapi saya tahu satu hal.
Saya tidak sedang membangun bisnis untuk menjadi cepat besar.
Saya sedang membangun sesuatu yang saya harap dapat bertahan lama.
Karena saya percaya…
membangun kepercayaan selalu membutuhkan waktu lebih lama daripada membangun sebuah merek.
Dan saya memilih memulai dari sana.

Dari Dapur Kecil Menuju Ruang Fermentasi: Hari-Hari Pertama Navaro House
“Mimpi yang besar hampir selalu dimulai dari ruangan yang kecil.”
Kalau hari ini seseorang datang ke ruang produksi Navaro House, mungkin yang mereka lihat hanyalah rak-rak fermentasi, botol-botol kombucha yang tertata rapi, dan berbagai peralatan produksi. Semua tampak seperti sebuah usaha yang memang sudah dirancang sejak awal.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Navaro House lahir dengan sangat sederhana.
Tidak ada pabrik.
Tidak ada mesin modern.
Tidak ada tim produksi.
Tidak ada modal besar.
Yang ada hanyalah saya, beberapa toples kaca, sebuah timbangan digital, dan keyakinan bahwa saya harus memberikan yang terbaik untuk setiap orang yang mempercayai produk saya.
Ketika akhirnya kami memutuskan pindah ke Yogyakarta, banyak orang mengira keputusan itu semata-mata karena ingin mengembangkan usaha. Padahal ada alasan lain yang jauh lebih penting.
Saya ingin lebih dekat dengan orang tua.
Setelah melihat papa sering sakit, saya semakin menyadari bahwa waktu bersama orang tua adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Saya tidak ingin hanya pulang ketika ada kabar buruk. Saya ingin hadir dalam keseharian mereka, membantu sebisa mungkin, dan menikmati waktu yang masih Tuhan berikan.
Keputusan pindah itu tentu tidak mudah.
Artinya kami harus meninggalkan rutinitas yang sudah kami bangun di Semarang.
Kami harus memulai lagi.
Sekali lagi.
Kalau dihitung, entah sudah berapa kali saya mengulang hidup dari nol.
Yogyakarta.
Semarang.
Bandung.
Semarang.
Lalu kembali ke Yogyakarta.
Dulu saya menganggap perpindahan itu sebagai tanda bahwa hidup saya tidak stabil.
Hari ini saya melihatnya berbeda.
Ternyata setiap kota meninggalkan bekal yang saya butuhkan.
Semarang mengajari saya bertahan.
Bandung mengajari saya berdagang.
Yogyakarta mengajari saya menemukan panggilan hidup.
Awalnya produksi kombucha masih dilakukan dalam jumlah yang sangat kecil.
Saya tidak berani membuat banyak.
Bukan karena takut rugi.
Tetapi karena saya ingin memastikan setiap botol benar-benar sesuai dengan standar yang saya inginkan.
Saya membeli toples kaca sedikit demi sedikit.
Tidak sekaligus.
Kalau ada keuntungan, sebagian saya putar kembali untuk membeli peralatan.
Kadang membeli satu toples.
Bulan berikutnya membeli dua lagi.
Lalu membeli timbangan yang lebih akurat.
Kemudian membeli botol.
Semua dilakukan bertahap.
Saya percaya bahwa pertumbuhan yang sehat tidak harus selalu cepat.
Yang penting kuat.
Hari-hari pertama produksi memiliki ritme yang unik.
Pagi hari biasanya saya mulai dengan merebus air.
Sambil menunggu air mendidih, saya menimbang teh.
Saya sangat menikmati momen itu.
Aroma teh yang mulai memenuhi ruangan selalu memberikan perasaan tenang.
Ketika daun teh bertemu air panas, perlahan warnanya berubah menjadi cokelat keemasan.
Saya sering berdiri beberapa saat hanya untuk menikmati aromanya.
Mungkin bagi sebagian orang itu terdengar aneh.
Tetapi bagi saya, membuat kombucha bukan hanya pekerjaan.
Ada rasa damai yang saya rasakan setiap kali memulai proses fermentasi.
Setelah teh selesai diseduh, saya menambahkan gula.
Saya mengaduk perlahan hingga semuanya larut.
Kemudian saya menunggu.
Lagi-lagi saya belajar tentang menunggu.
Tidak boleh terburu-buru.
Teh harus benar-benar dingin sebelum starter dimasukkan.
Kalau terlalu panas, mikroorganisme bisa mati.
Hal kecil seperti ini mengajarkan saya bahwa dalam hidup pun tidak semua hal bisa dipaksakan.
Ada proses yang memang membutuhkan waktu.
Setelah suhu teh sesuai, saya menuangkan starter dan memasukkan SCOBY ke dalam toples.
Di sinilah bagian yang paling saya sukai.
Saya selalu memegang toples itu beberapa detik sebelum menutupnya.
Entah mengapa saya sering berdoa dalam hati.
“Tuhan, semoga batch ini berhasil.”
Doa itu mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi saya, setiap batch adalah sebuah tanggung jawab.
Saya tahu akan ada seseorang yang meminum hasil fermentasi itu.
Karena itu saya tidak pernah menganggap proses ini sebagai rutinitas biasa.
Saya ingin setiap botol yang keluar dari Navaro House menjadi produk yang saya sendiri bangga untuk memberikannya kepada keluarga saya.
Di luar dugaan, justru bagian yang paling melelahkan bukanlah fermentasi.
Melainkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang sering tidak terlihat.
Mencuci botol.
Mensterilkan peralatan.
Menempel label.
Mengisi botol satu per satu.
Membersihkan meja.
Merapikan ruangan.
Menghitung stok.
Membalas pesan pelanggan.
Mengemas pesanan.
Mengantar ke ekspedisi.
Semuanya saya lakukan sendiri.
Kadang saya bercanda kepada suami.
“Kalau Navaro House ini punya karyawan, jumlahnya banyak sekali.”
Beliau tertawa lalu bertanya,
“Siapa saja?”
Saya menjawab sambil tersenyum,
“Direkturnya aku. Bagian produksi aku. QC aku. Marketing aku. Admin aku. Kurir juga aku.”
Kami tertawa bersama.
Tetapi di balik candaan itu, memang begitulah kenyataannya.
Sebagai pelaku UMKM, kita sering harus menjadi banyak orang dalam satu hari.
Ada hari-hari ketika saya merasa sangat lelah.
Pagi baru dimulai, tetapi pekerjaan sudah menunggu.
Belum selesai produksi, ada pelanggan yang bertanya.
Belum selesai menjawab pelanggan, ekspedisi datang mengambil paket.
Belum selesai mengemas paket, saya harus menyiapkan batch berikutnya.
Kadang malam hari saya baru menyadari bahwa sejak pagi saya belum sempat duduk lebih dari beberapa menit.
Tubuh terasa pegal.
Punggung terasa kaku.
Tangan mulai kasar karena terlalu sering terkena air.
Namun setiap kali rasa lelah datang, saya selalu mengingat alasan saya memulai.
Saya tidak sedang mengejar kesuksesan semata.
Saya sedang membangun masa depan keluarga saya.
Saya sedang membangun sesuatu yang suatu hari nanti bisa menjadi warisan, bukan hanya dalam bentuk usaha, tetapi juga dalam bentuk nilai-nilai kehidupan.
Ada satu kebiasaan yang mulai saya lakukan sejak awal membangun Navaro House.
Saya mencatat hampir semuanya.
Berapa liter yang diproduksi.
Berapa gram teh yang digunakan.
Berapa lama fermentasi berlangsung.
Bagaimana rasa setiap batch.
Apa yang perlu diperbaiki.
Kadang catatan itu terlihat berlebihan.
Tetapi saya percaya bahwa bisnis yang baik dibangun di atas data, bukan sekadar ingatan.
Kebiasaan mencatat ini pula yang kemudian sangat membantu saya ketika mengikuti Program Inkubasi UMKM beberapa tahun kemudian.
Saya tidak lagi hanya mengandalkan perasaan.
Saya mulai belajar mengambil keputusan berdasarkan catatan yang saya miliki.
Hari demi hari, pelanggan mulai bertambah.
Memang belum banyak.
Tetapi cukup untuk membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalan yang benar.
Ada pelanggan yang kembali membeli.
Lalu membeli lagi.
Bagi saya, pelanggan yang datang kembali selalu lebih membahagiakan daripada pelanggan baru.
Karena itu berarti mereka percaya.
Kepercayaan seperti itulah yang ingin saya bangun.
Bukan sekadar penjualan.
Saya ingin suatu hari nanti ketika seseorang mendengar nama Navaro House, yang pertama kali terlintas di pikiran mereka bukan hanya kombucha.
Melainkan kualitas.
Kejujuran.
Dan kepedulian.
Saya percaya bahwa sebuah merek tidak dibangun melalui iklan yang mahal.
Sebuah merek dibangun dari pengalaman pelanggan.
Kalau pengalaman itu baik, mereka akan bercerita kepada orang lain.
Dan cerita dari mulut ke mulut selalu menjadi promosi yang paling jujur.
Namun, ketika saya mulai merasa ritme produksi sudah semakin baik, saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa perjalanan bisnis tidak pernah benar-benar lurus.
Justru ketika saya mulai percaya diri, sebuah tantangan besar datang.
Tantangan yang memaksa saya menghentikan produksi.
Tantangan yang membuat saya harus membuang hasil kerja saya sendiri.
Tantangan yang membuat saya menangis dan bertanya,
“Apakah aku sanggup melanjutkan ini?”
Saat itu saya belum tahu bahwa keputusan yang saya ambil akan menentukan masa depan Navaro House.
Karena pada akhirnya…
kualitas tidak diuji ketika semuanya berjalan lancar.
Kualitas diuji ketika kita berani kehilangan keuntungan demi mempertahankan kepercayaan.
Ketika Saya Memilih Kepercayaan daripada Keuntungan
“Sebuah bisnis tidak runtuh karena satu kegagalan. Sebuah bisnis runtuh ketika pemiliknya berhenti menjaga kepercayaan.”
Kalau ada yang bertanya kepada saya, apa masa paling berat selama membangun Navaro House, mungkin banyak orang mengira jawabannya adalah ketika modal kecil atau ketika penjualan sepi.
Padahal bukan.
Bagi saya, masa paling berat justru ketika saya harus mengambil keputusan yang secara bisnis terlihat merugikan, tetapi secara hati nurani terasa benar.
Keputusan itu adalah menghentikan produksi.
Pada awalnya semuanya berjalan seperti biasa.
Setiap pagi saya masuk ke ruang fermentasi.
Saya memeriksa satu per satu toples.
Melihat apakah lapisan SCOBY tumbuh dengan baik.
Mencium aromanya.
Mengecek suhu ruangan.
Semua sudah menjadi rutinitas yang saya hafal di luar kepala.
Saya percaya bahwa kualitas kombucha tidak hanya ditentukan oleh resep.
Lingkungan tempat fermentasi juga sama pentingnya.
Karena itu saya selalu berusaha menjaga ruang produksi tetap bersih.
Saya menyapu setiap hari.
Mengepel lantai.
Membersihkan meja.
Menata peralatan.
Saya merasa semua sudah cukup baik.
Sampai suatu hari…
Saya melihat sesuatu yang membuat hati saya tidak tenang.
Di sudut dinding, tepat di belakang rak fermentasi, ada bercak hitam kecil.
Awalnya saya mengira hanya noda.
Saya mengambil kain basah dan mencoba mengelapnya.
Sebagian hilang.
Sebagian lagi tetap menempel.
Saya mulai memperhatikan lebih teliti.
Ternyata bukan hanya satu titik.
Ada beberapa.
Kecil.
Tetapi cukup membuat saya khawatir.
Hari itu saya tidak bisa bekerja dengan tenang.
Pikiran saya terus kembali ke bercak hitam itu.
Beberapa hari kemudian saya memeriksanya lagi.
Bercak itu bertambah.
Saya langsung tahu.
Jamur.
Jantung saya berdegup lebih cepat.
Bagi orang yang bekerja dengan fermentasi, kata “jamur” adalah sesuatu yang tidak boleh dianggap sepele.
Fermentasi memang melibatkan mikroorganisme.
Tetapi bukan berarti semua mikroorganisme boleh berada di ruang produksi.
Saya segera memeriksa seluruh toples.
Satu per satu.
Saya membuka kain penutupnya.
Mengamati permukaan SCOBY.
Mencium aromanya.
Melihat apakah ada tanda-tanda kontaminasi.
Puji Tuhan.
Semua batch masih baik.
Jamur belum masuk ke dalam fermentasi.
Masalahnya hanya ada di ruangan.
Kalau hanya mengejar keuntungan, saya sebenarnya masih bisa terus berproduksi.
Produk belum rusak.
Tidak ada pelanggan yang tahu.
Tidak ada yang akan menyalahkan saya.
Tetapi hati saya berkata lain.
Saya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.
Saya selalu percaya bahwa pelanggan membeli produk saya karena mereka mempercayai saya.
Kalau saya mengkhianati kepercayaan itu, semua yang saya bangun akan kehilangan makna.
Saya ingin menghentikan produksi sementara karena masalah yang ada didinding diruang produksi.
Ayah saya bertanya,
“Yakin?”
Saya mengangguk.
“Kalau aku tetap produksi, mungkin tidak apa-apa. Tetapi aku tidak akan tenang.”
Saya sadar bahwa keputusan itu akan membuat pemasukan berhenti.
Padahal biaya tetap berjalan.
Tetapi ada sesuatu yang lebih penting daripada uang.
Kepercayaan.
Keesokan harinya saya mulai mengosongkan ruang fermentasi.
Toples-toples besar saya angkat satu per satu.
Tidak ringan.
Apalagi ketika masih berisi cairan.
Saya memindahkannya ke ruangan lain sementara.
Setelah semua kosong, saya mulai membongkar rak.
Rak kayu yang selama ini saya gunakan ternyata menyimpan kelembapan.
Saya baru menyadari bahwa walaupun terlihat bersih di permukaan, bagian belakangnya sulit dibersihkan.
Saya memutuskan menggantinya.
Bukan karena rak kayu jelek. Tetapi Kayu sangat rawan dengan jamur, rak tidak boleh dari kayu.
Hal ini membuat ruang produksi yang lebih mudah dirawat.
Saya memilih menggunakan rak besi.
Lebih kokoh.
Lebih mudah dibersihkan.
Lebih tahan terhadap kelembapan.
Selama beberapa hari berikutnya, ruang produksi berubah menjadi lokasi renovasi kecil.
Panggil tukang buat membersihkan ruangan.
Seluruh ruangan dicat ulang dengan cat antijamur.
Setiap sudut yang bahkan sebelumnya jarang saya perhatikan.
Sambil bekerja, saya terus berpikir.
“Ternyata menjaga kualitas bukan pekerjaan yang selesai satu kali.”
Kualitas adalah keputusan yang harus diambil setiap hari.
Renovasi selesai dalam seminggu. Tetapi ruang habis di cat harus benar-benar hilang aromanya, jadi harus ditunggu 2 minggu. Setelah ruangan siap.
Namun saya belum berani langsung memulai produksi.
Masih ada satu hal yang mengganggu pikiran saya.
Starter yang saya miliki.
Apakah semuanya masih benar-benar sehat?
Saya tidak mau berasumsi.
Saya memilih menguji semuanya.
Saya membuat batch kecil.
Mengamati hasilnya.
Mencatat perubahan.
Ada starter yang tetap kuat.
Ada yang mulai melemah.
Ada SCOBY yang tumbuh sangat baik.
Ada pula yang pertumbuhannya lambat.
Saya melakukan seleksi.
Beberapa saya pertahankan.
Beberapa saya buang.
Membuang starter yang sudah dirawat berbulan-bulan memang terasa berat.
Tetapi saya kembali mengingat prinsip yang selalu saya pegang.
Lebih baik kehilangan bahan baku daripada kehilangan kepercayaan pelanggan.
Saya sering mengatakan bahwa membangun usaha itu seperti membangun rumah.
Orang biasanya hanya melihat cat tembok yang indah.
Padahal kekuatan rumah justru ada pada pondasinya.
Begitu juga bisnis.
Orang melihat logo.
Melihat kemasan.
Melihat foto produk.
Tetapi pondasi sebenarnya adalah integritas pemiliknya.
Hari itu saya belajar bahwa integritas kadang membutuhkan harga yang mahal.
Harga itu bisa berupa waktu.
Bisa berupa uang.
Bisa juga berupa keberanian untuk berhenti sejenak demi memperbaiki sesuatu.
Setelah ruang fermentasi kembali digunakan, saya merasa lebih tenang.
Saya tahu keputusan menghentikan produksi memang menyakitkan.
Tetapi saya tidak pernah menyesal.
Justru dari peristiwa itu saya semakin yakin.
Saya tidak sedang membangun usaha untuk bertahan satu atau dua tahun.
Saya ingin membangun sesuatu yang masih dipercaya bertahun-tahun kemudian.
Dan untuk itu, saya harus berani mengambil keputusan yang benar, walaupun tidak selalu menguntungkan.
Namun ternyata ujian belum selesai.
Beberapa minggu setelah produksi dimulai kembali, sebuah kejadian lain membuat saya kembali terdiam.
Hari itu saya sedang menuangkan teh panas ke dalam toples kaca berukuran besar.
Karena terburu-buru, saya lupa bahwa suhu toples masih jauh lebih dingin.
Baru beberapa detik air panas masuk…
“PRAANG!”
Suara pecahan kaca memenuhi ruangan.
Air teh yang baru saja saya seduh mengalir ke lantai.
Pecahan kaca berserakan ke mana-mana.
Saya berdiri membeku.
Bukan karena marah.
Tetapi karena lelah.
Saya memandang lantai beberapa saat.
Lalu tanpa sadar saya tersenyum kecil.
Saya berkata dalam hati,
“Baiklah Tuhan… ternyata hari ini aku harus mulai lagi dari awal.”
Dan saya pun mengambil sapu, membersihkan pecahan kaca, lalu merebus teh lagi.
Karena saya mulai mengerti satu hal.
Menjadi pengusaha bukan berarti tidak pernah jatuh. Menjadi pengusaha berarti selalu bersedia memulai lagi, bahkan pada hari ketika semuanya terasa berantakan.

KSaya Belajar Menjadi Pengusaha, Bukan Sekadar Membuat Kombucha
“Saya tidak pernah bercita-cita menjadi pengusaha. Tetapi ternyata setiap kegagalan sedang mengajari saya menjadi seorang pengusaha.”
Kalau ada satu kalimat yang menggambarkan perjalanan saya membangun Navaro House, mungkin kalimat itu adalah:
“Saya belajar sambil berjalan.”
Saya tidak pernah mengikuti sekolah bisnis.
Saya tidak memiliki gelar di bidang manajemen.
Saya juga bukan seseorang yang lahir dari keluarga pengusaha.
Semua yang saya pelajari berasal dari pengalaman.
Dari kegagalan.
Dari kesalahan.
Dan dari keberanian untuk mencoba lagi.
Semakin Navaro House berkembang, semakin saya menyadari satu hal.
Membuat kombucha ternyata adalah bagian yang paling mudah.
Yang jauh lebih sulit adalah membangun bisnis.
Awalnya saya berpikir tugas saya hanyalah memastikan kombucha terasa enak.
Kalau rasanya enak, pelanggan pasti datang.
Ternyata dunia bisnis tidak sesederhana itu.
Produk yang baik memang penting.
Tetapi produk yang baik saja tidak cukup.
Saya mulai belajar bahwa ada banyak hal lain yang harus dipikirkan.
Bagaimana menghitung biaya produksi.
Bagaimana menentukan harga jual.
Bagaimana mencatat pemasukan dan pengeluaran.
Bagaimana mengatur persediaan bahan baku.
Bagaimana membuat jadwal produksi.
Bagaimana menjaga kualitas setiap batch.
Bagaimana melayani pelanggan.
Bagaimana memasarkan produk.
Semua itu adalah dunia yang benar-benar baru bagi saya.
Kadang saya merasa seperti kembali menjadi murid SD.
Setiap hari ada pelajaran baru.
Saya masih ingat ketika pertama kali mencoba membuat pencatatan keuangan dengan lebih rapi.
Dulu saya hanya melihat saldo rekening.
Kalau saldonya bertambah, saya merasa usaha saya berkembang.
Kalau saldonya berkurang, saya merasa ada yang salah.
Sesederhana itu.
Namun lama-kelamaan saya mulai sadar bahwa cara berpikir itu keliru.
Saldo rekening tidak selalu menunjukkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Saya bisa saja mempunyai uang di rekening, tetapi ternyata sebagian besar adalah modal yang belum kembali.
Saya bisa saja merasa untung, padahal sebenarnya belum menghitung semua biaya.
Kesadaran itu membuat saya mulai belajar ulang akuntansi yang dulu saya pelajari di universitas.
Jujur saja, awalnya saya merasa pusing. Sudah 18 tahun ilmu ini tidak pernah saya pakai.
Saya bahkan beberapa kali bertanya kepada diri sendiri, dulu kuliah Akuntansi itu berguna tidak ya.
Tetapi saya tidak menyerah.
Sedikit demi sedikit saya mulai memahami bahwa angka-angka itu sebenarnya sedang bercerita.
Mereka menceritakan kesehatan usaha saya.
Dan kalau saya ingin Navaro House bertumbuh, saya harus belajar memahami cerita itu.
Saya mulai mencatat setiap pembelian teh.
Setiap kilogram gula.
Setiap botol.
Setiap label.
Setiap tutup botol.
Setiap ongkos kirim.
Awalnya terasa melelahkan.
Tetapi setelah beberapa bulan saya mulai melihat manfaatnya.
Saya jadi tahu berapa biaya yang benar-benar dibutuhkan untuk menghasilkan satu botol kombucha.
Saya tidak lagi menentukan harga hanya berdasarkan perkiraan.
Saya mulai menggunakan data.
Saya merasa lebih tenang.
Karena setiap keputusan mempunyai dasar yang jelas.
Di tengah proses belajar itu, saya mendapatkan kesempatan yang sangat berharga.
Saya diterima mengikuti Program Inkubasi UMKM Naik Kelas.
Sampai hari ini saya masih menganggap kesempatan itu sebagai salah satu hadiah terbesar yang Tuhan berikan dalam perjalanan bisnis saya.
Saya masih ingat hari ketika mendaftar.
Sebenarnya saya tidak terlalu percaya diri.
Saya tahu banyak peserta lain mempunyai usaha yang jauh lebih besar.
Produksi mereka lebih banyak.
Omzet mereka lebih tinggi.
Pengalaman mereka juga lebih panjang.
Saya sempat bertanya kepada diri sendiri,
“Apa aku pantas ikut bersaing dengan mereka?”
Namun kemudian saya mengingat satu hal.
Saya datang bukan untuk membuktikan bahwa saya hebat.
Saya datang untuk belajar.
Kalau diterima, saya akan bersyukur.
Kalau tidak diterima, saya tetap belajar dari prosesnya.
Ketika nama saya dinyatakan lolos seleksi tahap pertama, saya benar-benar bersyukur.
Saya mengucap syukur dalam hati.
Namun ternyata perjalanan belum selesai.
Masih ada seleksi berikutnya.
Setiap tahap jumlah peserta semakin sedikit.
Saya mulai mengenal para pelaku UMKM lain.
Ada yang usahanya sudah puluhan tahun.
Ada yang mempunyai puluhan karyawan.
Ada yang produknya sudah masuk supermarket.
Kadang saya kembali merasa minder.
Navaro House masih sangat kecil.
Produksi saya belum seberapa.
Namun setiap kali rasa minder datang, saya mengingat alasan saya berada di sana.
Saya tidak datang untuk membandingkan diri.
Saya datang untuk bertumbuh.
Dan Tuhan kembali membuka jalan.
Saya lolos ke tahap berikutnya.
Lalu tahap berikutnya lagi.
Sampai akhirnya saya berhasil bertahan hingga tahap ketiga.
Setiap kali mendengar nama saya dipanggil, saya tidak merasa sedang memenangkan kompetisi.
Saya merasa sedang diberi kesempatan.
Kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada diri saya yang kemarin.
Program inkubasi itu mengubah banyak hal.
Bukan hanya bisnis saya.
Tetapi juga cara berpikir saya.
Saya mulai menyusun SOP.
Saya mulai membuat formulir produksi.
Formulir panen.
Formulir monitoring fermentasi.
Formulir kebersihan.
Formulir kualitas.
Dulu saya merasa semua itu terlalu rumit.
Sekarang saya justru merasa tenang karena semuanya tercatat.
Saya tidak lagi hanya mengandalkan ingatan.
Saya mulai membangun sistem.
Saya baru memahami bahwa bisnis yang ingin bertumbuh tidak boleh bergantung pada satu orang saja.
Harus ada sistem yang tetap berjalan walaupun suatu hari saya tidak berada di ruang produksi.
Selain belajar di kelas, kami juga mendapatkan tugas praktik yang sangat berkesan.
Suatu hari mentor memberikan tantangan yang menurut saya cukup gila.
Kami diminta menjual produk UMKM peserta lain.
Aturannya sederhana tetapi berat.
Tidak boleh membawa uang.
Tidak boleh membawa telepon genggam.
Tidak boleh menggunakan media sosial.
Hanya boleh membawa identitas diri.
Saat mendengar aturan itu saya langsung berpikir,
“Bagaimana mungkin bisa jualan?”
Namun justru di situlah pelajarannya.
Kami harus mengandalkan keberanian berbicara dengan orang yang sama sekali tidak kami kenal.
Saya mendapatkan produk berupa kue lumpur.
Bersama beberapa peserta lain, kami berjalan menuju kawasan Malioboro.
Di bawah terik matahari.
Membawa kotak-kotak berisi kue.
Saya masih ingat betapa gugupnya ketika harus menawarkan kepada orang pertama.
Beliau tersenyum sopan.
Lalu berkata,
“Tidak, terima kasih.”
Saya mencoba lagi kepada orang kedua.
Ditolak lagi.
Orang ketiga juga.
Semakin banyak penolakan, semakin saya merasa tidak percaya diri.
Saya sempat berpikir,
“Mungkin aku memang tidak pandai menjual.”
Namun saya melihat teman-teman saya tetap mencoba.
Mereka ditolak.
Tetapi mereka terus berjalan.
Akhirnya saya ikut melangkah lagi.
Saya tersenyum kepada orang berikutnya.
Menawarkan dengan ramah.
Dan kali ini…
Beliau membeli satu kotak.
Entah mengapa saya merasa sangat senang.
Bukan karena nilai penjualannya.
Tetapi karena saya berhasil mengalahkan rasa takut saya sendiri.
Setelah itu semuanya terasa lebih mudah.
Satu pembeli.
Dua pembeli.
Lima pembeli.
Sampai akhirnya seluruh dagangan kami habis.
Hari itu saya mendapatkan keuntungan tertinggi.
Saya bahkan mendapatkan hadiah sebuah cerita.
Namun hadiah terbesar sebenarnya bukan cerita itu.
Hadiah terbesar adalah keberanian yang baru saya temukan dalam diri saya sendiri.
Hari itu saya belajar bahwa menjadi pengusaha bukan berarti tidak pernah ditolak.
Justru penolakan adalah bagian dari perjalanan.
Yang membedakan hanyalah apakah kita berhenti setelah ditolak…
atau kembali tersenyum kepada orang berikutnya.
Sepulang dari inkubasi saya merasa menjadi orang yang berbeda.
Saya tidak lagi hanya berpikir bagaimana membuat kombucha yang enak.
Saya mulai berpikir bagaimana membangun perusahaan yang sehat.
Saya mulai bermimpi lebih besar.
Bukan hanya tentang omzet.
Tetapi tentang kualitas.
Tentang lapangan pekerjaan.
Tentang dampak.
Tentang bagaimana suatu hari nanti Navaro House bisa menjadi tempat bagi orang lain untuk bertumbuh seperti saya pernah bertumbuh.
Dan sejak hari itu saya mengerti.
Saya mungkin tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha.
Tetapi Tuhan sedang membentuk saya menjadi seorang pengusaha, satu pelajaran demi satu pelajaran.
Mimpi yang Terus Saya Kejar
“Saya percaya Tuhan tidak memberi saya mimpi yang besar supaya saya menjadi orang yang hebat. Dia memberikannya supaya saya terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.”
Kalau seseorang bertanya kepada saya hari ini,
“Apakah Navaro House sudah menjadi seperti yang kamu impikan?”
Saya akan tersenyum.
Lalu menjawab,
“Belum.”
Jawaban itu bukan karena saya tidak bersyukur.
Justru sebaliknya.
Saya sangat bersyukur melihat sejauh mana Tuhan membawa perjalanan ini.
Namun saya percaya bahwa setiap kali satu mimpi tercapai, Tuhan sering kali menitipkan mimpi yang baru.
Perjalanan saya belum selesai.
Masih banyak langkah yang ingin saya tempuh.
Masih banyak hal yang ingin saya pelajari.
Dan masih banyak orang yang ingin saya temui dalam perjalanan ini.
Kalau saya menoleh ke belakang, saya sering merasa seperti sedang melihat kehidupan orang lain.
Sulit dipercaya bahwa semua ini pernah saya alami.
Seorang perempuan yang dulu hanya ingin membantu ekonomi keluarga.
Seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki latar belakang bisnis.
Seorang perempuan yang pernah duduk diam memandangi saldo rekening yang tinggal lima juta rupiah.
Seorang istri yang berkali-kali memulai hidup dari nol setiap kali berpindah kota.
Seorang ibu yang pernah menjual apa saja agar tetap bisa membantu keluarga.
Hari ini ternyata bisa berdiri di ruang fermentasi miliknya sendiri.
Saya tidak pernah membayangkannya.
Kalau ada yang mengatakan sepuluh tahun lalu bahwa saya akan memiliki sebuah merek minuman, saya mungkin akan menganggapnya hanya lelucon.
Karena saat itu dunia saya sangat berbeda.
Saya hanya berpikir bagaimana menjalani hari demi hari.
Bagaimana memastikan kebutuhan keluarga tercukupi.
Bagaimana menjadi ibu yang baik.
Saya tidak pernah membuat peta hidup yang sangat rinci.
Saya hanya berusaha setia pada langkah yang ada di depan mata.
Hari ini saya sadar, mungkin memang itulah cara Tuhan memimpin saya.
Dia tidak menunjukkan seluruh jalan sekaligus.
Dia hanya menerangi satu langkah berikutnya.
Dan setiap kali saya berani melangkah, Dia membuka jalan yang baru.
Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya terima.
“Apa rahasia Navaro House bisa berkembang?”
Setiap kali mendengar pertanyaan itu, saya selalu merasa tersenyum dalam hati.
Karena sejujurnya saya tidak merasa memiliki rahasia khusus.
Saya tidak memiliki modal ratusan juta rupiah.
Saya juga tidak mempunyai investor.
Saya tidak mempunyai tim pemasaran yang besar.
Kalau ada satu hal yang menurut saya paling berpengaruh, mungkin jawabannya adalah konsisten belajar dan tidak menyerah.
Saya tidak pernah merasa sudah tahu semuanya.
Sampai hari ini pun saya masih membaca.
Masih mengikuti pelatihan.
Masih bertanya kepada orang lain.
Masih mencoba resep baru.
Masih belajar tentang teh.
Masih belajar tentang fermentasi.
Masih belajar tentang akuntansi.
Masih belajar tentang kepemimpinan.
Saya percaya, hari ketika seseorang berhenti belajar adalah hari ketika pertumbuhannya mulai berhenti.
Program Inkubasi UMKM menjadi salah satu titik yang semakin menguatkan keyakinan saya.
Di sana saya tidak hanya belajar teori.
Saya melihat begitu banyak pelaku usaha yang luar biasa.
Ada yang usahanya lebih besar.
Ada yang lebih berpengalaman.
Ada yang lebih pintar.
Namun saya belajar bahwa membandingkan diri tidak pernah membuat kita maju.
Yang membuat kita maju adalah membandingkan diri kita hari ini dengan diri kita kemarin.
Kalau hari ini saya sedikit lebih berani daripada kemarin, berarti saya bertumbuh.
Kalau hari ini saya sedikit lebih disiplin daripada kemarin, berarti saya bertumbuh.
Kalau hari ini produk saya sedikit lebih baik daripada bulan lalu, berarti saya sedang berjalan ke arah yang benar.
Saya juga mulai memikirkan masa depan Navaro House dengan lebih serius.
Dulu saya hanya ingin bisa menjual kombucha.
Hari ini saya ingin membangun sebuah perusahaan yang memiliki nilai.
Saya ingin setiap orang yang bekerja bersama saya merasa dihargai.
Saya ingin pelanggan percaya bahwa apa yang mereka minum dibuat dengan penuh tanggung jawab.
Saya ingin setiap keputusan bisnis tetap berangkat dari hati nurani, bukan semata-mata dari keuntungan.
Karena saya percaya, keuntungan memang penting.
Tetapi keuntungan bukan tujuan akhir.
Keuntungan adalah alat agar sebuah usaha bisa terus bertumbuh dan memberi manfaat.
Salah satu mimpi terbesar saya adalah membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
Terutama bagi perempuan.
Mengapa perempuan?
Karena saya tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang ingin tetap berkarya.
Saya tahu ada banyak perempuan hebat yang terpaksa berhenti bekerja karena harus mengurus keluarga.
Padahal mereka memiliki kemampuan yang luar biasa.
Saya sering membayangkan suatu hari nanti Navaro House memiliki tim yang sebagian besar terdiri dari perempuan-perempuan tangguh.
Perempuan yang saling mendukung.
Perempuan yang bertumbuh bersama.
Perempuan yang merasa bahwa bekerja bukan berarti meninggalkan keluarga, tetapi justru menjadi cara untuk mencintai keluarga mereka dengan lebih baik.
Kalau suatu hari mimpi itu terwujud, saya akan sangat bersyukur.
Karena bagi saya, keberhasilan sebuah usaha bukan hanya diukur dari omzet.
Tetapi juga dari berapa banyak kehidupan yang ikut menjadi lebih baik karena usaha itu ada.
Mimpi saya yang lain mungkin terdengar sederhana.
Saya ingin suatu hari nanti masuk ke sebuah supermarket, berjalan melewati rak minuman, lalu melihat botol Navaro House berdiri di sana.
Mungkin orang lain akan menganggap itu hanya sebuah produk.
Tetapi bagi saya, botol itu akan menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang ini tidak sia-sia.
Saya akan teringat ruang fermentasi kecil.
Toples-toples kaca pertama.
Rak yang saya susun sendiri.
Botol yang saya cuci satu per satu.
Label yang saya tempel sendiri.
Paket yang saya bungkus sendiri.
Semua kenangan itu akan ikut berdiri di rak supermarket bersama botol tersebut.
Namun kalau Tuhan ternyata mempunyai rencana yang berbeda, saya juga belajar untuk menerimanya.
Karena tujuan saya bukan sekadar membuat Navaro House menjadi besar.
Tujuan saya adalah tetap setia mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada saya hari ini.
Kalau Tuhan mempercayakan seratus pelanggan, saya ingin melayani seratus pelanggan itu dengan baik.
Kalau suatu hari jumlahnya menjadi seribu, saya juga ingin melayani mereka dengan hati yang sama.
Saya tidak ingin kehilangan alasan mengapa saya memulai.
Ada satu pelajaran yang paling saya syukuri dari seluruh perjalanan ini.
Saya belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah takut.
Saya masih sering takut.
Takut membuat keputusan yang salah.
Takut mengecewakan pelanggan.
Takut produk saya tidak cukup baik.
Takut gagal lagi.
Namun sekarang saya tahu bahwa rasa takut tidak harus menghentikan langkah.
Kita bisa tetap melangkah walaupun hati masih berdebar.
Saya sudah membuktikannya berkali-kali.
Saya pernah takut membuka usaha.
Saya pernah takut pindah kota.
Saya pernah takut menjual secara online.
Saya pernah takut membuat konten.
Saya pernah takut mengajar.
Saya pernah takut membangun Navaro House.
Tetapi setiap kali saya melangkah, Tuhan selalu menunjukkan bahwa langkah berikutnya ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan.
Kalau hari ini saya boleh berbicara kepada Monika yang dulu sedang menangis karena saldo rekeningnya tinggal lima juta rupiah, mungkin saya akan berkata seperti ini.
“Jangan menyerah.”
“Kamu memang belum tahu apa yang sedang Tuhan siapkan.”
“Suatu hari nanti kamu akan mengerti mengapa semua ini harus terjadi.”
Saya juga ingin memeluk perempuan itu.
Karena saya tahu betapa beratnya beban yang sedang ia pikul saat itu.
Tetapi saya juga tahu bahwa perempuan itu tidak menyerah.
Dan karena ia memilih terus berjalan, saya bisa berdiri di titik ini hari ini.
Saya tidak tahu bagaimana bentuk Navaro House lima tahun lagi.
Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti usaha ini akan menjadi sangat besar atau tetap bertumbuh secara perlahan.
Tetapi saya tahu satu hal.
Saya ingin tetap menjadi orang yang sama.
Tetap rendah hati.
Tetap mau belajar.
Tetap mendengarkan pelanggan.
Tetap menjaga kualitas.
Tetap percaya kepada Tuhan.
Karena pada akhirnya, semua yang saya miliki hanyalah titipan.
Dan saya ingin mempertanggungjawabkannya dengan sebaik mungkin.
Suatu hari nanti, mungkin anak-anak saya akan membaca cerita ini.
Mungkin mereka akan tersenyum melihat betapa sering ibunya gagal.
Betapa sering ibunya harus memulai lagi.
Saya berharap ketika hari itu tiba, mereka tidak melihat cerita ini sebagai kisah tentang bisnis.
Saya berharap mereka melihatnya sebagai kisah tentang iman.
Tentang ketekunan.
Tentang keberanian untuk memulai lagi.
Tentang seorang ibu yang tidak pernah berhenti mencoba memberikan yang terbaik bagi keluarganya.
Kalau mereka bisa menangkap pesan itu, maka cerita ini sudah mencapai tujuannya.
Hari ini saya masih berdiri di ruang fermentasi.
Masih menimbang teh.
Masih memeriksa setiap batch.
Masih menjawab pertanyaan pelanggan.
Masih belajar.
Masih bermimpi.
Dan saya percaya, selama Tuhan masih memberi kesempatan, perjalanan ini belum selesai.
Karena sesungguhnya…
Navaro House bukan tujuan akhir.
Navaro House hanyalah salah satu cara Tuhan mengajarkan saya untuk bertumbuh.

EPILOG
Dari Masalah Menjadi Berkat
Ketika saya menoleh ke belakang, saya baru menyadari bahwa tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup yang sia-sia.
Laundry mengajarkan saya melayani.
Dropship mengajarkan saya menjual.
Perpindahan kota mengajarkan saya beradaptasi.
Pandemi mengajarkan saya memperlambat langkah.
Kombucha mengajarkan saya kesabaran.
SCOBY mengajarkan saya melihat peluang.
Ruang fermentasi yang berjamur mengajarkan saya menjaga integritas.
Inkubasi mengajarkan saya berpikir sebagai pengusaha.
Dan semua itu membawa saya ke titik hari ini.
Saya tidak tahu cerita apa yang masih akan Tuhan tulis dalam hidup saya.
Tetapi saya percaya, seperti fermentasi yang membutuhkan waktu, kehidupan juga memiliki prosesnya sendiri.
Kita mungkin tidak selalu mengerti mengapa harus melewati masa-masa sulit.
Namun ketika suatu hari kita menoleh ke belakang, sering kali kita baru menyadari bahwa justru dari masalah-masalah itulah Tuhan sedang menyiapkan berkat.
Itulah sebabnya saya memberi judul cerita ini Dari Masalah Menjadi Berkat.
Karena saya adalah saksi bahwa berkat tidak selalu datang dengan cara yang mudah.
Sering kali, berkat datang menyamar sebagai masalah.
Dan tugas kita hanyalah tetap percaya, tetap belajar, dan tetap melangkah.
Satu langkah kecil setiap hari.

3 Juli 2026, Saya mendapatkan Mujizat
Saya mendaftar dengan pelatihan Artisan Tea Indonesia yang diadakan Kementrian Perindustrian dan acaranya Gratis hanya untuk 16 orang terpilih. Pendaftarnya ada 291 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Saat tanggal 1 Juli 2026 saya di masukkan group Calon Pelatihan Artisan Tea Indonesia. Saya tidak pernah menyangka kalau peserta yang mendaftar itu banyak. Kemudia tanggal 2 Juli itu Adalah pelatihan secara online kemudian test wawancara. Saat itu saya sedang di acara pendampingan Halal Bimtek dari Dinas Koperasi. Saya luangkan waktu sebentar untuk wawancara. Saya tidak berpikir apa-apa tentang hal ini. Saat tanggal 3 saya di beritahu bahwa saya lolos, wow ini bukan karena diriku tetapi karya Tuhan. Dan saat saya tahu bahwa peserta yang mendaftar 291 orang, saya merinding sampai tidak percaya bahwa saya lolos. Ya memang kita tidak boleh takut untuk mencoba, untuk hasil bagaimana serahkan pada yang di atas.
