Cerita Kenapa Saya (Monika Leoni) Membuat Kombucha

Sebagian orang mungkin menganggapnya sepele. Bisa buang air besar dengan lancar setiap hari, ya wajar saja — apa istimewanya?

Tapi buat saya, itu adalah anugerah.

Saya masih ingat, ada begitu banyak di kamar mandi ketika saya benar-benar mengucap syukur. Terima kasih, Tuhan, hari ini aku bisa BAB. Kedengarannya berlebihan mungkin bagi yang tidak pernah mengalaminya.

Dulu, Saya Tidak Pernah Peduli

Waktu masih muda, urusan pencernaan bukan sesuatu yang saya pikirkan sama sekali. Tidak BAB seminggu? Saya cuek saja. Rasanya biasa saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dari kecil juga begitu tidak selalu BAB tiap hari.

Semua berubah setelah saya dewasa, saya semakin tahu tentang kesehatan tidak BAB sampai berhari-hari itu tidak wajar. Sembelit jadi teman lama yang tidak pernah pergi. Apalagi sembelit yang dikarenakan dari kecil dan juga dari masalah Endomeotrosis. Dan seperti kebanyakan orang yang putus asa mencari jalan keluar, saya mencoba segala cara — obat pencahar, minuman berserat, jamu jati cina, apa saja yang katanya bisa membantu saya buang air besar.

Awalnya semua itu terasa menolong. Tapi lama-kelamaan, saya sadar saya bukan sedang menyembuhkan apa-apa — saya hanya membuat diri saya semakin bergantung. Semakin sering saya minum obat pencahar, semakin susah tubuh saya “jalan sendiri” tanpa bantuan itu. Sebuah lingkaran yang melelahkan.

Titik Balik di Tengah Pandemi

Saya sebenarnya sudah lama tahu bahwa kombucha katanya baik untuk pencernaan. Tapi pengetahuan itu cuma mengendap begitu saja, tidak pernah benar-benar saya coba — sampai pandemi datang.

Di tengah waktu yang serba lambat dan penuh waktu luang itu, saya iseng mencobanya. Tidak ada ekspektasi besar. Cuma coba-coba, sekadar mengisi waktu.

Saya mulai minum kombucha secara rutin. Dan perlahan, sesuatu berubah. BAB saya jadi lebih lancar — bukan karena dipaksa oleh obat, tapi terasa lebih alami. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya merasa tidak lagi butuh obat pencahar, jamu, atau minuman berserat yang selama ini jadi andalan saya.

Yang lebih saya syukuri lagi: bukan cuma soal pencernaan. Saya jadi jarang sekali sakit — batuk pilek radang tengorokan yang dulu jadi langganan, sekarang nyaris tidak pernah datang lagi.

Dari Pengalaman Pribadi, Menjadi Niat untuk Berbagi

Setelah merasakan sendiri bedanya, satu pikiran terus muncul di kepala saya: pasti ada orang lain di luar sana yang berjuang dengan masalah yang sama seperti saya dulu.

Saya tahu rasanya terjebak dalam ketergantungan pada obat pencahar. Saya tahu rasanya mengucap syukur untuk hal sesederhana bisa BAB. Dan kalau kombucha bisa membantu saya, mungkin ia juga bisa membantu orang lain yang diam-diam berjuang dengan hal yang sama, tapi malu untuk membicarakannya.

Dari situlah Navaro House lahir — bukan dari rencana bisnis yang matang di atas kertas, tapi dari pengalaman pribadi yang ingin saya bagikan ke lebih banyak orang.


Catatan: cerita di atas adalah pengalaman pribadi saya, dan bisa berbeda untuk setiap orang. Ini bukan klaim bahwa kombucha adalah obat atau menyembuhkan kondisi tertentu — hanya sebuah pengalaman jujur yang ingin saya bagikan.

Monika Leoni, Founder Navaro House

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *